Jumat, 23 November 2007

Nama

Oleh J Prata Diharja, SJ

Dia duduk menerawang ke atas, dan tersenyum. Dia bakal melaksanakan rencana yang menurut dia sendiri gila. Kemudian beranjak dari duduknya, pelan-pelan melangkah ke depan. Mulai berjalan. Dia masih tersenyum-senyum memikirkan rencananya.

Nah, tiba-tiba ada gagasan muncul untuk menemui seorang anak. Siapa saja tak pandang bulu, asal dia seorang anak. Untuk kemudian langkahnya tidak tanpa tujuan: menemui seorang anak kecil. Nah, itu dia seorang anak berjalan menuju kepadanya.

"Hei, nak siapa kamu?"

Anak itu tak menjawab. Hanya tersenyum.

"Siapa namamu?”

Malah si anak mengikik sambil menggigit ketiga jari kirinya, dan berlari kecil agak menghindar dari orang tua yang berjenggot memutih dan bercambang itu. Anak kecil itu sudah tahu siapa orang tua itu dan apa pekerjaannya, namun dia senang mengganggu, dan bergurau dengannya.

"He he heee ... hik hik hik .... Mau apa kek?”

"Mau menanyakan namamu. Siapa kamu hei?"

"Namaku ...? Bodong!"

Kini kakek itu ganti terkekeh-kekeh mendengar nama itu.

"Kek, saya minta uangnya."

Kakek itu terkekeh-kekeh lagi.

"Engkau mau uang? Mari, ikut saya, asal kamu mau ...."

"Ah, nggak mau! Jangan-jangan, kau suruh aku telanjang, lalu kau gambar anuku."

Kakek itu terpingkal-pingkal lagi sambil menepuk-nepuk bahu anak itu.

"Tidak, tidak ..., mari to ikut aku."

"Segera, kekek berjalan menuju ke rumahnya. Anak kecil mengikuti agak jauh di belakangnya.

Sampai di rumah.

"Mari masuk! Duduklah!"

Sementara anak kecil itu duduk sambil mengagumi lukisan-lukisan dan hasil karya di sekitarnya, orang tua itu masuk ke ruangan dalam. Kemudian, orang tua yang masih kekar itu keluar lagi dengan membawa kain kanvas serta beberapa cat berwarna serta kuas. Lalu, ia mengeluarkan beberapa uang lima ratusan.

"Nah, kau mau ini?"

Si anak diam saja, menatap orang tua dengan penuh pertanyaan.

"Boleh kamu miliki uang ini. Nah, simpanlah dulu di dalam sakumu!"

Si anak tambah bingung ketika kakek itu memasukkan uang itu ke dalam saku celananya. Belum pernah ia memiliki uang sebanyak itu. Lalu, kakek dengan senyum lebar menepuk-nepuk bahu si anak. Tapi, dengan demikian, kini si anak itu kaku, dan merasa dibatasi ruang geraknya. Tidak bisa lagi dia mempermainkan Pak Tua.

"Nah, sekarang saya minta tolong. Gambarkan pada kain ini awan-awan seperti yang biasa kamu lihat."

"Gambarkan?" Itulah pertanyaan yang timbul di benak si anak. Bukankah dia sendiri seorang pelukis besar dan ternama? Mengapa menyuruh si anak kecil yang tak tahu menahu untuk menggambarkannya? Anak itu lama terdiam sambil menggigit jari.

"Aku tidak bisa, Kek."

Kakek itu terkekeh-kekeh.

"Tidak apa-apa Gus, sebisamu saja. Jangan takut! Ayo coba, Nak! Engkau akan kujadikan pelukis seperti saya, kalau kamu mau. Bila kamu sekiranya malu, akan kutinggalkan tempat ini, dan kau bisa senaknya menggambar. Okey? Baik."

Kemudian, kakek masuk ke ruangan dalam dengan tersenyum-senyum. Di dalam sana, dia merenung, menyusun rencana selanjutnya untuk usaha yang satu itu. Lalu, anak itu dengan sangat hati-hati dan takut mulai mencoba menggunakan cat dan mengoles kuas pada kain kanvas dengan maksud menggambar sebagaimana yang diminta oleh kakek. Setengah jam kemudian, anak kecil berteriak-teriak memanggil-manggil kakek.

"Keeek, sudaaah ..., tidak bisa ...."

Lalu, kakek datang berlari-lari dengan senyum pengharapan. Sedangkan, anak itu meringis kamalu-maluan.

Melihat hasilnya, kakek itu mengangguk-angguk sambil kedua tangannya memegang kedua lengan si anak.

"Bagus, bagus! Nah, ternyata kamu pinter! Sekarang coba di bagian ini gambarkan sebuah cakar ayam. Sini, di bagian bawah dari awan-awan.

"Kakek menoleh ke wajah anak. Terjadi, pertemuan pandangan yang kontras. Yang satu pandangan memimpin dan yang lain pandangan bertanya-tanya. Dipegangnya bahu anak itu, digoyang-goyangkan, dan diciumnya dengan kegembiraan.

"Nah, selamat bekerja!"

Kakek masuk lagi ke ruangan dalam diikuti oleh pandangan anak kecil itu. Di luar rumah, ranting-ranting dan dahan-dahan mengangguk-angguk digerakkan angin. Di dalam, lukisan-lukisan yang berbentuk topeng-topeng terasa menertawakan si bocah. Tersadar dari lamunannya, bocah itu kembali ke kanvas meneruskan kewajibannya. Dia terpaksa berusaha menggambar sebuah cakar ayam.

Setengah jam kemudian, orang tua itu datang lagi.

"Nah, bagaimana Nak?"

"Tidak bisa Kek."

"Ha, ha, haaaa .... Bagus, bagus! Sudah, sudah! Sudah cukup, Gus!"

Sambil mengangguk-angguk dielusnya kepala anak itu, sedang anak itu tak habis bertanya-tanya.

"Nah, Gus ... sekarang sudah selesai. Mau pulang atau mau melihat-lihat di sini dulu? Terserah ....Oya, ini masih ada kembang gula sedikit, ambillah! Atau, mau minum?"

"Tidak Kek, saya mau pulang saja. Sudah ya, Kek"

"Mau pulang? Oo ... terima kasih, terima kasih. Besok main ke sini lagi ya, Gus."

Si anak itu terus lari meninggalkan sanggar ciptaannya. Sedangkan, orang tua terduduk terkekeh-kekeh sendirian dengan bebasnya. Terkekeh-kekeh dan terkekeh-kekeh lagi. Diambilnya kuas kecil, dan dioleskannya sebuah tanda tangan pada bagian bawah kanan lukisan itu. Belum lama juga ia telah membubuhkan tanda tangan untuk sajak-sajak seorang penyair yang karena belum punya nama, sajak-sajaknya yang matang itu selalu ditolak oleh majalah-majalah dan koran-koran di kotanya. Setelah penyair itu menggunakan nama pelukis tua ternama yang kebetulan penyair juga, sajak-sajaknya mulai bermunculan di majalah-majalah. Lucu. Sungguh permainan yang lucu. Kini, dia benar-benar mau membuktikan thesisnya yang akhir-akhir ini menjadi buah renungannya. Tapi, itu baru akan terlaksana nanti.

Akhirnya, telah berlalu pula masa yang ia tunggu-tunggu. Pameran Tunggalnya. Dan, bakal menguji thesis yang telah diyakininya dengan pameran yang akan digelarnya di kota Metropolitan. Berarti pameran itu memiliki bobot nasional. Bahkan, internasional. Dan, kehidupan ini adalah panggung ujian yang sesungguhnya. "Non scholae, sed vitae" kata orang-orang sono. Bukan di sekolah, tetapi di kehidupan ini berlangsung ujian yang sebenarnya.

Seperti biasanya, pameran kali ini banyak dikunjungi orang. Namun, entah karena apa, mungkin karena sedang resesi ekonomi, pada pameran ini yang terbeli hanya 3 lukisan. Tetapi, lumayan harganya; bisa untuk menutup semua biaya pameran. Bahkan, masih tersisa 7 juta rupiah. Pameran tunggal sudah selesai. Kali ini, karya-karyanya yang terjual tak sebanyak yang sudah-sudah. Sungguh suatu warna yang menyolok dalam lukisan sejarah hidupnya. Barangkali, peristiwa ini tak terlupakan. Bukan karena kali ini, karya-karya yang pada pameran biasanya selalu terjual lebih dari 50%, kini hanya terjual 3 buah dari 90 lukisannya. Tetapi, justru di antara yang terjual itu, terdapat satu-satunya lukisan anak kecil itu.

"Ini sungguh lukisan yang paling modern, berseni sangat tinggi yang pernah kujumpai. Inilah versi yang merupakan perkembangan pesat dari karya-karya Bung Arifin. Suatu warna baru!"

Demikianlah komentar seorang pejabat tinggi, penggemar koleksi lukisan dari pelukis-pelukis ternama yang telah punya otoritas besar.

“Ah, tak terkatakan. Hanya bisa dirasakan, dinikmati, dan direnungkan dengan diam," lanjutnya.

Kemudian, dibayarnya lukisan itu dengan uang 5 juta rupiah. Maka, tak habis-habisnya pelukis itu tersenyum, tertawa sendirian, dan terkekeh-kekeh menertawakan kelucuan dunia.

"Memang," katanya dalam hati, "Dunia ini menilai suatu karya hanya berdasarkan otoritas penciptanya. Meski bagaimanapun bentuk karyamya, tapi kalau sang pencipta sudah punya otoritas besar dan kuat, karya itu akan selalu dihargainya. Mereka berasumsi terlebih dahulu. Bukannya karya demi karya itu sendiri, melainkan karya demi penciptanya."

Seorang penyair berbakat harus mencari nama terlebih dahulu dengan mendapatkan pengakuan dari khalayak. Untuk itu, dia mesti menulis pada majalah yang sudah punya otoritas pula, misalnya. Sedangkan, untuk bisa agar karangannya diterima di majalah, terlebih dahulu sudah diandaikan nama. Seorang redaksi yang menerima karangan, entah berbentuk cerpen, puisi, atau tulisan ilmiah lainnya, terlebih dulu dalam hatinya akan bertanya: "Siapakah pengarangnya? Apakah dia sudah punya nama? dsb., dst....” Nama mengandaikan nama. Kalau begitu, bagaimana orang akan mulai kariernya? Sebaliknya bagi orang-orang yang sudah punya nama di kalangan publik, tinggal memasang namanya di setiap karyanya. Apapun karyanya, ia akan mendapat tempat. Seorang penyair tinggal memuntahkan kata-kata yang aneh, dan tak dimengerti massa. Seorang kritikus tinggal melemparkan penilaiannya. Dan, itu akan dipakai sebagai patokan. Bahkan, nama itu bisa disalahgunakan untuk karya orang lain. Ini berlaku bagi orang-orang yang punya otoritas seperti pejabat, cendekiawan, kritikus, seniman, dan semacamnya.

"Nama! Nama! Nama! Sekali lagi nama!”

Secara tak disadarinya kata-kata itu mencuat dengan keras dari mulutnya. Baru kemudian, tersadar bahwa dia telah berteriak-teriak dengan menggebu-gebu. Terhenyak dari lamunannya oleh suaranya sendiri.

"Ah, akan terciptakan orang-orang besar karena nama, koneksi, dan bukan karena prestasi di negara ini?"

Ia berdiri dan berjalan ke rumah sambil membawa kekhawatiran akan masa depan negaranya.

Selesai pulang pameran, pelukis itu mencari si Bodong, anak kecil yang telah berhasil mengelabuhi dunia. Setelah ketemu, dipanggilnya anak itu, diciumnya, dan diberinya sepeda mini. Anak itu amat sangat senang. Sejak saat itu, terjadilah persahabatan dan kerja sama antara pelukis tua dengan si Bodong, bocah ingusan itu.

Tlon, Uqbar dan Orbis Tertius: Ensiklopedia Labirin Imaji Jorge Luis Borges

Oleh Agus Sulistyo

The visible universe was an illusion or, more precisely, a sophism. Mirrors and fatherhood are abominable because they multiply it and extend it 1.

Petikan itu kutemukan dalam Encarta ketika satu per satu kata Tlon, Uqbar, dan Orbis Tertius kumasukkan secara bergantian dalam search engine yang tersedia. Kutipan itu kutemukan berkat denyar pikir penasaranku atas judul tulisan Borges yang kubaca dari terjemahan Hasif Amini. Sementara itu, Hasif 2 - temanku yang mengaku pernah bertatap-muka dengannya menyebutnya demikian- menerjemahkannya, “...alam semesta kasatmata ini adalah suatu ilusi atau (tepatnya) sebentuk sofisme. Cermin dan dan hubungan suami istri sama buruknya karena keduanya melipatgandakan dan menyebarluaskan alam semesta3.”

Dalam terjemahan tulisan George Luis Borges (1899-1986) itu, diceritakan bahwa kata-kata itu keluar dari mulut Adolfo Bioy Casares (1914-1999) di gagang telepon setelah menemukan jilid XLVI The Anglo-American Cyclopaedia di Buenos Aires. Bioy bermaksud meyakinkan Borges tentang bunyi kutipan salah seorang cendekiawan penyebal -anonim- di Uqbar pada percakapan seusai makan malam yang berakhir menggantung. Mereka berdua berbincang panjang lebar tentang kemungkinan menulis novel dengan pencerita orang pertama di mana dia menghilangkan atau menyelewengkan fakta-fakta, dan bermain-main dengan kontradiksi sehingga hanya segelintir pembaca -sangat sedikit pembaca- yang mampu menangkap kenyataan banal yang mengerikan dibalik novel tersebut...

‘Seperti laba-laba, yang membangun rumahnya sendiri’, begitu Borges mengutip Alquran XXIX:41. Itu kutemukan di cerpen lain, halaman sebelumnya dalam tulisan terjemahan Hasif yang diberi judul mencurigakan: Ibn Hakkan al-Bokhari Mati di Dalam Labirinnya Sendiri 4. Dan, sekarang gantian aku yang mengutip awal ceritanya:

“Kira-kira seperempat abad yang lalu,” kata Dunraven, ”Ibnu Hakkan al-Bokhari, pemimpin atau raja entah suku apa di sekitar Sungai Nil, tewas di ruang tengah rumah ini di tangan sepupunya Zaid. Setelah sekian lama, fakta-fakta di seputar kematiannya masih saja tidak jelas.”

Uwin, seperti biasanya, bertanya mengapa demikian.

“Ada beberapa alasan,” jawabnya,”Pertama, rumah ini adalah sebuah labirin. Kedua, ia dijaga oleh seorang budak dan seekor singa. Ketiga, setimbun harta karun di sana lenyap. Keempat, pembunuhnya pun tewas ketika pembunuhan itu terjadi. Kelima....“

Capai mendengarkan, Uwin langsung memotong.

“Jangan melipatgandakan misteri,”katanya. “Tapi pertahankan sesederhana mungkin! Ingat surat curian (Allan) Poe (1809-1849); ingat bilik terkunci Zangwill!”

“Atau jadikan sekompleks mungkin “ tukas Dunraven. “Ingat alam semesta.”

Ha, kata lain yang mungkin lebih tepat adalah perihal sepele yang disembunyikan -ditutup-tutupi- dengan fakta-fakta yang dahsyat? Astaga, kerut-kening dan kerja keras usaha untuk menemukan jejak-jejak fakta itu tidak sebanding dengan nilainya? Aku sepakat dengannya, itu mengerikan; membuatku tersenyum pilu oleh karena rasa pusing yang aneh. Bagaimana itu terjadi? Ha-ha-ha, aku coba meniru-niru Borges sekarang....

I
Uqbar dan Tlön


Borges mengaku menemukan Uqbar -astaga, dikatakannya, itu terjadi lima tahun lampau terhitung dari waktu ia mengatakannya- berkat pertautan antara selembar cermin dan sejilid ensiklopedia. Dikatakannya, cermin itu tergantung di ujung koridor sebuah rumah di jalan Ganoa di kawasan Ramos Mejia. Keduanya -cermin dan sejilid ensiklopedi itu- terpaut oleh lontaran Bioy pada suatu makan malam: salah seorang cendekiawan penyebal di Uqbar berpendapat bahwasanya cermin dan senggama sama buruknya karena keduanya memperbanyak jumlah manusia. Namun, artikel mengenai Uqbar seperti apa yang dikatakan Bioy, tidak ditemukan dalam The Anglo-American Cyclopaedia yang ada dalam rumah sewaan tempat mereka berbincang -seperti yang disebutkannya sebagai sumber acuan kata-katanya. Bahkan, Bioy pun tak menemukannya pada jilid Indeks. Beberapa hari setelah memberitahukan Borges melalui telepon dari Buenos Aires bahwa ensiklopedi yang dimaksud telah ada di tangannya, Bioy mendatangi Borges, dan menunjukkan empat halaman artikel tentang Uqbar.

Kalimat yang dikutip Bioy mungkin satu-satunya bagian yang menakjubkan. Selebihnya, tampak sangat masuk akal, selaras dengan keseluruhan corak penulisannya, dan (alhasil) agak membosankan. Di balik kerapian gaya prosanya, terdapat suatu kekaburan mendasar. Begitulah komentar Borges.

Dari empat belas nama yang tertera di bagian geografi, Borges dan Bioy hanya mengenali tiga -Khurasan, Armenia, Erzurum- yang dihubung-hubungkan dalam teks secara membingungkan. Dari nama tokoh-tokoh sejarah, hanya satu: Smerdis, ahli sihir gadungan, yang dikilaskan lebih sebagai kiasan. Tulisan tersebut sepertinya hendak menegaskan juga batas-batas wilayah Uqbar namun dengan menggunakan acuan-acuan samar, yakni sungai-sungai dan kawah-kawah dan jajaran pegunungan yang termasuk di dalam wilayah itu juga. Dataran rendahTsai Khaldun dan Axa Delta menandai batas selatan, serta di pulau-pulau sekitar delta itu hidup dan berkembang biak kuda-kuda liar. Di bagian sejarah (halaman 920), tertulis, para penganut paham ortodoks mengungsi ke pulau-pulau itu akibat suatu penyiksaan religius pada abad ke-13; prasasti-prasasti yang berupa batuan cermin dari dalam tanahnya, bisa ditemukan hingga sekarang. Satu hal yang hal yang layak dicatat: disebutkan bahwa sastra Uqbar bercorak fantasi dan epik serta legenda-legendanya tak sedikit pun merujuk pada realitas melainkan pada dua wilayah imajiner bernama Mlejnas dan Tlön....

Astaga, ini satu-satunya petunjuk yang mempertautkan Uqbar dengan Tlön: bahwa Tlön -selain Mlejnas- merupakan wilayah imajiner yang menjadi rujukan (referensi) bagi sastra di Uqbar yang bercorak fantasi dan epik.

Namun, menurut Borges, ensiklopedi tersebut dinamai secara menyesatkan: The Anglo-American Cyclopaedia (New York, 1917), cetakan ulang dari Encyclopaedia Britanica edisi 1902 -alhasil sama persis namun menyimpang. Yang dibawa, Bioy memang Jilid XLVI The Anglo –American Encyclopaedia. Diamatinya, pada halaman su-judul dan gigir sampul, tanda urut abjadnya (Tor-Ups) sama dengan ensiklopedi yang ada dalam rumah sewaan tersebut, tetapi jumlah halamannya bukan 917 melainkan 921. Empat halaman tambahan yang tidak tercakup dalam jilid indeks maupun abjad tersebut berisi tentang Uqbar. Meskipun sebelumnya Bioy mengatakan bahwa itu suatu wilayah di Irak atau Asia Kecil, pencarian yang sia-sia ke dalam atlas terbaik dunia Justus Perthes meneguhkan keraguan Borges terhadap Bioy. Dia menduga negeri tak terdaftar serta tokoh penyebal anonim tadi tentu rekaan (yang timbul dari kesahajaan) Bioy untuk memperkuat pernyataannya. Namun, teks itu telah ada di depan matanya. Itu mendorong penelusurannya ke seluruh isi perpustakaan nasional. Namun, hasilnya nihil. Bahkan, setelah menemukan ensiklopedi yang sama di sebuah toko buku, Carlos Mastronardi -yang telah diberitahu Borges soal ini- tak menemukan artikel tersebut di dalamnya.

Akhir babak ini tidak memuaskan, bukan? Itu pun berlaku bagi Borges. Namun, terbuka pula bahwa ini sebuah kesengajaan. Kata lain yang lebih tepat adalah ‘trik’ pencerita -siapa lagi, kalau bukan Borges- untuk membuat pembacanya tetap bertahan. Alasan yang dapat aku rumuskan -sebagai pembaca-: keterkaitan keduanya (Tlön dan Uqbar) belum kutemukan sesuai dengan judul yang telah tertera, dan terlanjur membuatku jatuh penasaran.


II
ORBIS TERTIUS dan Tlön


Dalam terjemahan Hasif, dicantumkan keterangan tambahan (apendiks) bahwa orbis tertius adalah nama untuk planet bumi dalam kosmografi di jaman Renaisans. Kata orbis berasal dari kata benda latin yang berarti lingkaran -kata ini lazim dirangkaikan dengan kata terrarum yang kemudian diartikan seluruh bumi-, sedangkan, kata tertius merupakan kata bilangan tingkat (numeralia cardinalia)5 yang berarti ketiga. Maka, secara harafiah kata itu berarti lingkaran atau bumi ketiga. Apakah istilah ini digunakan Borges untuk negara dunia ketiga? Borges tidak berkata demikian secara eksplisit.

Tulisan itu ditemukan Borges (berupa inskripsi) di atas cap biru berbentuk oval -tentu gambar bola dunia- di halaman pertama ensklopedi berbahasa Inggris 1001 halaman: A First Encyclopaedia of Tlön. Volume XI. Haer to Jangr. Ia menemukannya di pojok bar dalam bentuk paket yang tercatat dari Brazil. Paket itu ditujukan kepada Herbert Ashe -insinyur jawatan kereta api daerah selatan, yang juga teman catur dan tukar pinjam buku ayah Borges- yang meninggal akibat pendarahan gondok nadi beberapa hari sebelumnya -tercatat September 1937. Kenangan yang masih tersisa adalah dua topik percakapan yang pernah terjadi: tentang sistem bilangan duodesimal (dimana 12 ditulis10): Ashe mengatakan dia sedang menyalin tabel duodesimal ke dalam sistem seksadesimal (dimana 60 ditulis 10) atas tugas dari seorang Norwegia di Rio Grande do Sul, serta tentang capanga dan asal usul kata gaucho dari bahasa Brazil. Alhasil, keduanya berakhir menggantung.

Sampai disini saja bagiku, petunjuk keterkaitan antara Orbis Tertius dan Tlön telah terjawab: keduanya terkait oleh sejilid ensiklopedi: A First Encyclopaedia of Tlön. Volume XI -dan (cukup mencurigakan) dalam edisi bahasa Inggris Bukankah Uqbar dan Tlön sebelumnya juga demikian? Apa lagi, Secara provokatif, Borges mengatakan bahwa di tangannya telah tergenggam sebuah fragmen utuh sejarah planet tak dikenal, lengkap dengan beragam arsitektur dan kartu kocoknya, keseraman mitologi-mitologi dan berbagai dialek bahasanya, para penguasa dan samudera-samuderanya, aneka mineral dan burung-burung serta ikan-ikannya, aljabar dan apinya, perdebatan-perdebatan teologi dan metafisikanya. Ha, uraian tentang hal ini, harusnya, lebih memuaskan dari pada ensiklopedi bajakan kepunyaan Bioy... ,yang katanya dibelinya pada sebuah bazaar.

Dalam jilid (volume) XI ensiklopedi tersebut, terdapat bagian-bagian yang menjadi rujukan atas jilid sebelum atau sesudahnya. Nestor Ibbara6 menyangkal adanya jilid-jilid tersebut dalam salah satu artikel (di N.R.F7), namun Ezequel Martinez Estrada8 dan Drieu La Rochele9 kemudian menyanggah penyangkalan secara lebih meyakinkan. Pendapat keduanya tidak mengubah fakta yang terjadi: bahwasanya tak ada satu petunjuk pun yang mengarah pada titik terang keberadaan jilid-jilid lainnya. Penelusuran di perpustakaan-perpustakaan di Amerika Selatan, Amerika Utara, dan Eropa telah dilakukan. Hasilnya masih juga nihil. Bahkan, Alfonso Reyes (1889-1952), saking kesalnya, mengusulkan untuk menyusun kembali jilid-jilid yang telah raib itu. Satu generasi ahli Tlön cukuplah; begitu katanya. Cetusan ini mengantar Borges ke pembayangan bahwa dunia ajaib itu adalah karya suatu kelompok rahasia yang terdiri dari para astronom, biolog, ahli teknik, metafisikawan, ahli kimia, ahli aljabar, moralis, pelukis, ahli geometri, yang dipimpin seorang genius yang tidak dikenal namun memiliki kecanggihan daya cipta sehingga mampu mengorganisasikannya ke dalam suatu rencana ketat dan sistematis. Tentu, Borges memperkuatnya dengan penyangkalan terhadap hipotesis pencipta tunggal Ensiklopedi ajaib itu. Ha, dia menambahkannya sebagai sosok ilahi Baron Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646-1716) yang diam-diam berkerja sendirian. Nah, apakah penolakannya itu terkait dengan penolakan pandangan spekulatif Leibniz (monadologinya) tentang harmoni yang telah ditetapkan sebelumnya, yang bersifat rasional dalam kaitannya dengan monad pertama (allah)10?

Ini mengingatkanku kembali kepada kata-kata Dunraven. Jadikan sekompleks mungkin; ingat alam semesta? Apalagi, Borges juga menambahkan bahwa mula-mula Tlön tampak seperti suatu khaos luar biasa, hasil permainan imajinasi yang liar dan gila; namun berangsur-angsur memang kelihatan sebentuk kosmos....

Konsep tentang alam semesta Tlön berpijak pada idealisme. Itu dilukiskan Borges dengan penyangkalannya terhadap uraian David Hume (1711-1776), bahwa sesuatu tidak dapat dipahami sebagai keseluruhan11 –dan dengan demikian ia hendak menunjukan perimaan terhadap argumen George Berkeley (1685-1753). Namun, kemudian, yang terpapar selanjutnya justru menunjukan peneguhan argumen Hume tersebut. Dunia merupakan aneka rentetan tindakan yang berdiri sendiri, bersifat berurutan dalam rentang waktu (temporal), dan bukan sekumpulan objek dalam ruang (spasial). Maka, proses mencerap (mengindera) segumpal asap di langit, api yang berkobar di sebuah dataran serta sebatang puntung cerutu yang menyebabkan kebakaran semata-mata dianggap sebagai contoh asosiasi gagasan. Pertautan gagasan tersebut tidak memepengaruhi, atau menerangi keadaan sebelumnya. Alasannya, setiap keadaan pikiran tidak dapat direduksi, bahkan tindakan menamai sesuatu hal (ke dalam sistem klasifikasi) sekaligus memuat penyangkalan terhadap hal tersebut. Maka, lenyaplah keabsahan ilmu-ilmu.

Paradoksnya, masih ada ilmu pengetahuan, bahkan ditemukan tak terbilang banyaknya. Dalam filsafat Tlön, berlangsung pula proses yang sama dengan apa terjadi pada kata benda dalam bahasa belahan utara. Kata benda dibentuk dengan menggabungkan macam-macam kata sifat. Dicontohkan Borges, untuk menunjuk kata bulan (kata benda) digunakan serangkaian kata sifat: “bulat-terang-bening-atas-kelam” atau “jingga-pucat-di-luas-langit“ atau rangkaian kombinasi kata-kata sifat lainnya. Sehingga, kenyataan tak diakui adanya kata benda justru menyatakan pelipatgandaannya dalam jumlah yang nyaris tak berhingga. Untuk menunjukkan kembali paham idealisme Tlön, Borges juga menambahkan bahwa objek benda (material) nyata yang dijadikan referesi adalah kasus istimewa. Soalnya, perangkaian kata benda dan sifat yang lazim terjadi mengacu pada objek-objek abstrak.

Ha, ini membuatku ternganga....Artinya, peneguhan argumen Hume tersebut ternyata memang kemudian mengantarkan kembali pada penggebahan terhadapnya. Dan dengan demikian, itu kembali memperkuat argumen keberadaan jilid-jilid lain ensiklopedi tersebut –meski perbincangan ini kemudian menjadi tak menarik lagi.

Persoalannya, justru ada pada pada batas kesadaran bahwa suatu sistem selalu berada di bawah subordinasi alam semesta dalam satu aspek ‘tertentu’. Argumen ini didasari oleh kemustahilan terangkumnya waktu sekarang dan lampau. Masa datang hanyalah pengharapan masa kini, dan masa lampau tak lebih dari ingatan masa kini. Ditambahkannya bahwa aliran lain menyatakan, seluruh waktu telah berlangsung, dan hidup cuma secercah ingatan redup, rusak atau terbuka juga pada kemungkinan kekeliruan; sementara, waktu mengalir tak terulang. Ada pula aliran pemikiran yang menarik sisi kelamnya sebagai karya makhluk setengah dewa yang lahir dari perselingkuhannya dengan iblis. Sementara, muncul juga gagasan para pelarian yang bersembunyi di balik sistem sandi semesta yang menyatakan kebenaran hanya sekali tiap tiga ratus malam. Dan, sisanya menganggap setiap orang adalah dua orang yang dipisahkan oleh ruang namun dihubungkan oleh aliran waktu yang sama. Namun, Borges terlanjur menyatakan suatu pernyataan bahwa para metafisikawan Tlön tidak berikhitiar untuk mencari kebenaran tetapi mencari kebenaran atau serangkaian upaya untuk mendekatinya tetapi berlomba-lomba mengejar kedahsyatan. Dan, lagi-lagi secara provokatif, dia menambahkan bahwa filsafat Tlön adalah cabang dari sastra fantasi. Apakah ini cara Borges menghindari lubang nihilisme yang ditinggalkan Hume?

Meski gagasan Zeno di tolak dengan mengajukan Hume, sebagai metafor gagasannya yang agak berlebihan, paradoks Zeno dari Elea (abad kelima SM) dipakainya untuk memasukkan suatu kasus sofistikasi yang disebutnya skandal materialisme:

Pada hari selasa, X melewati sebuah jalan lengang dan kehilangan sembilan keping koin tembaga. Hari Kamis, Y menemukan di jalan itu empat koin, agak berkarat akibat hujan hari Rabu. Hari Jumat, Z menemukan tiga tiga koin di jalan tadi. Jumat pagi, X menemukan dua koin di koridor rumahnya. [Sang penyebal mencoba melakukan deduksi, dari cerita ini, tentang realitas -yakni kontinuitas- sembilan koin yang ditemikan kembali itu.] Sungguh muskil [tandasnya] membayangkan empat dari sembilan koin tersebut tidak eksis antara Selasa dan Kamis, tiga koin antara Selasa dan Jumat, tiga koin antara Selasa dan Jumat, dua koin antara Selasa dan Jumat pagi. Adalah logis berfikir bahwa kesemuanya eksis -setidaknya secara rahasia, tersembunyi dari pemahaman manusia— pada setiap saat dari tiga rentang waktu tersebut.

Sudah tentu, kasus itu disebutkan sebagai skandal materialisme. Soalnya, kata kuncinya: konsep tentang alam semesta Tlön berpijak pada idealisme. Namun, terbuka juga bahwa persoalan ini menandai polarisasi monisme ke dalam monisme materialis dan monisme spiritualis. Gagasan yang kemudian dianggap Borges mendapatkan tempat bagus: subjek tunggal adalah setiap makhluk di alam semesta dan makhluk-mahkluk ini merupakan organ-organ dan topeng Sang Maha Kudus. X adalah Y dan Y adalahZ. Z menemukan menemukan tiga koin karena ingat X telah menghilangkannya; X menemukan dua koin di koridor karena dia ingat koin-koin lainnya telah ditemukan….

Alhasil, jilid XI tersebut mengungkapkan tiga ulasan yang menentukan keberjayaan pantheisme. Pertama, penolakan atas solipsisme (ajaran yang menyangkalan adanya realitas diluar diri sendiri), kedua mempertahankan landasan psikologi ilmu-ilmu; ketiga, kemungkinan mempertahankan pemujaan kepada para dewata.

Namun, seperti yang sudah-sudah, pengungkapan ini bukanlah jawaban final yang ultim karena pengungkapan berarti membuka kemungkinan untuk kembali menggebahnya atau kembali melipatgandakan persoalan. Satu pertimbangan yang bagiku sangat mungkin, Borges telah memiliki simpati yang besar terhadap Berkeley, filsuf dan rohaniwan Irlandia, pendukung idealisme bahkan solipsisme, dan penentang empirisme John Locke (1632-1704). Idea-idea abstrak yang ditarik dari objek konkret berada di luar kesadaran subjek Locke ditolak Berkeley dengan mengajukan gagasannya bahwa idea dan objek yang diacu tersebut berasal dari ide dan kesadaran yang sama. Jadi, yang ditolak dari Locke adalah pembedaan antara pengalaman yang berasal dari objek dan idea sebagai apa yang dicerna subjek. Penolakan terhadap pandangan metafisis yang tidak dapat dipersepsi secara umum dikenal dalam ucapannya: esse est percipi (being is being perceived). Arti yang lebih jauh, dunia material sama dengan idea-idea kita sendiri. Ini kemudian yang ditangkap sebagai solipsisme. Pemutlakan terhadap subjek ini memancing banyak orang untuk memahaminya sebagai pengikut rasionalisme, namun prinsip pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman membuatnya kelihatan sebagai pengikut empirisme12.

Namun, fakta yang disodorkan Borges kemudian: bahwasanya George Berkeley merupakan salah satu nama yang tercantum dalam suatu kelompok rahasia abad 17 dengan tekad penuh suci –dikatakan pada suatu malam pertemuan di Lucerne London- berencana untuk mendirikan sebuah negeri (khayali). Perjanjian turun temurun itu berjalan baik. Pada tahun 1824 seorang anggota dari kelompok itu bertemu dengan Ezra Buckley, seorang hartawan asketis di Memphis, Tennnense. Buckey bersedia membantu dengan hartanya dengan syarat: mahakarya itu tidak akan bersekutu dengan Yesus Kristus. Buckley tewas diracun pada tahun 1828; pada tahun 1914, kelompok itu menyerahkan jilid akhir dari 40 jilid A First Encyclopaedia of Tlön kepada anggotanya yang berjumlah tiga ratus orang. Ensiklopedi itu ditulis masih dalam bahasa Tlön. Revisi atas dunia khayali ini untuk semetara dinamakan Orbis Tertius. Fakta itu ditemukan di selembar surat berstempel Ouro Preto yang ditandatangani oleh Gunnar Erfjord, terselip di antara halaman-halaman buku karya Hinton kepunyaan Herbert Ashe. Dengan demikian, dikatakan bahwa hipotesis Martinez Estrada benar. Dan, sekitar tahun 1944, seorang yang sedang mengadakan riset untuk koran The American menjumpai ke-40 jilid tersebut.

Kembali berbicara tentang sastra Tlön, Borges mengungkapkan bahwa karya fiksi Tlön hanya memiliki satu alur cerita dengan kemungkinan permutasinya. Kata lain yang lebih cocok untuk permutasi adalah pencerminan (refleksi) atau persenggamaan. Jika dunia materi adalah ilusi, melipatgandakannya berbahaya, sama halnya menyusun labirin bagi dirinya sendiri. Petunjuk ini kutemukan dalam cerpen karya Borges yang berjudul Taman Bercecabang13:
..........................................................................................
Barangsiapa hendak melaksanakan perbuatan laknat harus dibayangkan olehnya bahwa perbuatannya telah terlaksana, serta telah ditetapkan atas dirinya suatu masa depan sekokoh masa silamnya.
..........................................................................................
Maka, bertempurlah para pahlawan itu, damai hati mereka, berdarah pedang mereka, dan baginya takdir telah ditetapkan untuk membunuh dan terbunuh di medan laga.
..........................................................................................
Bagiku, harusnya sandaran itu cukup kuat bagi Yu Tsun dalam menyelesaikan misinya untuk membunuh Stephen Albert untuk menunjukkan nama kota rahasia yang harus diserbu: Albert.
..........................................................................................
Aku tinggalkan untuk beragam masa depan (bukan untuk semua) taman jalan setapak bercecabang ini.
..........................................................................................
Dalam tiap kali seseorang dihadapkan beberapa alternatif, dia memilih salah satu dan meninggalkan yang lain; dalam fiksi Ts’ui Pen, dia memilih -sekaligus semuanya. Dengan cara ini, beliau menciptakan berbagai masa depan yang berbeda-beda, waktu yang beraneka, masing-masing terus berkembang biak dan kian bercabang-cabang.
..........................................................................................

Namun, diceritakan bahwa sebelum hukuman gantung dilaksanakan, rasa ngilu dan sesal masih merayapi kedalaman hati Yu Tsun.

***
Maka tahun khayali itu
Menggelar kesalahan, dan kebenaran baru,
Menggulung yang lama, sebaliknya;
Semua orang adalah penari dan langkah mereka
Berduyun ke dentang gong yang keras
Membahana14

—William Butler Yeats (1865-1939), The Tower.
Epilog:

Suatu masa silam fiktif mulai menggusur masa silam lain dalam ingatan buram, dan menghapus sejarah yang pernah dituturkan di masa kanak-kanak. Dan, kenyataan takluk di bawah penggambaran yang beraneka ragam, dan siap bagi aneka ragam penggambaran terhadapnya.

Ah, sepuluh tahun silam (1930-an), setiap simetri yang mencerminkan suatu keteraturan -materialisme dialektis, antisemitisme, Nazism- sudah cukup memabukkan pikiran manusia. Apa lagi yang bisa dilakukan selain menyerahkan diri ke bawah kuasa Tlön dengan kehidupan yang teratur sempurna? Tlön adalah suatu labirin rekaan manusia, permainan tingkat ahli catur. Ah, benar juga kata Borges, Tlön, Uqbar dan Orbis Tertius -bagiku ketiganya- terpaut oleh dua jilid ensiklopedi dan ilusi kaca cermin di antara semerbak bunga sedap malam di Hotel Adrogué, tempat Borges menikmati hari-hari tenteram dan sunyi.

Yogyakarta, Mei 2005

Catatan Akhir

1Appears in a quotation about reality, Jorge Luis Borges (1899 - 1986), Argentinian writer and poet., Ficciones, "Tlön, Uqbar, Orbis Tertius", Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

2Lihat Amini, Hasif, Labirin Impian, Yogyakarta:LKiS, 1999, hlm 18-43. Terjemahannya saya jadikan referensi utama dalam tulisan ini, dan juga sebagian saya kutip secara utuh dengan sedikit perbaikan demi mengantar pembaca kepada pendapat saya tentang Borges namun juga penghargaan atas karyanya serta tak lupa hasil penerjemahan Hasif Amini.

3 Bandingkan dengan sumber terjemahan yang digunakan Hasif dari teks berbahasa Inggris oleh James E. Irby, The Labyrinth: Selected Stories and Other Wrintings Jorge Luis Borges, Middlesex England: Penguin Books Ltd., 1964,p. 28,”… the visible universe was an illusion (or more precisely) a sophism. Mirror and fatherhood are abominable because they multiply and disseminate that universe.”

4Amini, Hasif, ibid., hlm.1-15.

5Wanamaja SJ, J., Elementa Linguae Latinae III, Surabaja: P.N. Karya Tjotas.1964.

6 Tokoh itu tidak aku temukan baik dalam Encarata, Encylopaedia Britanica (baik yang berbentuk buku maupun CD-Rom) ataupun Encyclopedia Americana.

7 N.R.F atau La Nouvelle Revue française, merupakan jurnal sastra dan seni terkemuka di Prancis pada masa perang dunia ke II yang didirikan pada bulan Februari 1909 oleh André Gide, Jacques Copeau, and Jean Schlumberger. Awalnya, jurnal ini bersifat independen; setelah kependudukan Jerman pada tahun 1940, juranl ini menjadi pro-fasis dibawah editor Pierre Drieu La Rochelle (Encyclopaedia Britanica Deluxe Edition CD-Rom)

8 Ezequel Martinez Estrada (1895-1964) adalah seorang penyair Agentina; salah satu karyanya yang terkenal, Radiografía de la pampa (X-ray of the Pampa). Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

9 Pierre Drieu La Rochelle (1893-1945) adalah seorang penulis Prancis, yang hidup dan karyanya (novel, cerita pendek, dan esai-esai politik) menggambarkan kecarutmarutan orang-orang muda pada masa perang dunia pertama. Ia pernah terlibat dalam gerakan surealis Prancis. Ini tampak dari karya-karyanya: L'Homme couvert de femmes (1925; “The Man Covered With Women”), dan Le Feu follet (1931; The Fire Within, or Will o' the Wisp; filmed by Louis Malle in 1963). La Comédie de Charleroi (1934; The Comedy of Charleroi and Other Stories), sebuah memoar tentang perang; Rêveuse bourgeoisie (1937; “Dreamworld Bourgeoisie”); novel terbaiknya, Gilles (1939) adalah karya-karyanya belakangan. Namun, pada masa perang dunia kedua ia memiliki simpati terhadap fasisme (Encyclopaedia Britanica Deluxe Edition CD-Rom)

10 Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2000, hlm.666-672. Itu juga dapat dilihat pada Bakker Anton, Ontologi Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-Dasar Kenyataan, Yogyakarta, 1992, hlm 32.

11 Bdk. Suseno, Franz Magnis, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta: Kanisius,1992, hlm.74; Atau dapat dilihat dalam Hardiman, Budi F., Filsafat Modern: dari Machiaveli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2004, hlm. 85-93.

12Bdk. Hardiman, Budi F., Ibid., hlm.82-85.

13 Amini, Hasif, ibid.,hlm.44-61.

14 Petikan ini diambil dari cerpen Borges yang berjudul Tema Penghianat dan Pahlawan, Ibid.,hlm.76

Kisah Burung Dara Putih dan Sebuah Lukisan

Oleh Sihar Ramses Simatupang



Tidak pernah ada yang tahu, burung dara putih milik siapa yang kerap keluar dan terbang dari rumah itu. Orang-orang kota ini hanya tahu bahwa seekor demi seekor burung dara selalu keluar dari rumah, dan terbang pergi dengan memperlihatkan kedukaan di wajahnya.

Burung yang usianya sangat muda, terlihat indah bulunya, terbang dan menghilang ke langit lepas. Terbang dan tak pernah lagi kembali.

Rumah itu memang sejak dulu tanpa penghuni. Tak ada suara, kecuali mereka sering mendengar setiap waktu selalu saja ada suara burung piyik mencicit sebelum akhirnya seekor burung dara putih muda muncul tiba-tiba dari wuwungan rumah, dan hinggap sejenak untuk kemudian terbang dan pergi.

Suara cicit piyik itu kadang teramat enak untuk didengar, terkadang mirip sebuah keluhan dan kerinduan. Suara yang terdengar mulai pagi, siang, sore, namun berhenti di saat malam hari. Agak lain dari biasanya, suara itu memang bukan misteri dan ganjil, yang mengundang tafsir takhyul buat sekelilingnya.

Tidak setiap orang adalah penduduk asli di sekitar rumah itu, tetap merasa akrab pada suara yang diperdengarkan dari rumah itu. Hingga berminggu-minggu, suara burung dan burung dara putih yang terbang itu selalu muncul. Hingga berbulan-bulan. Hingga bertahun-tahun.

***

"Pasti pemiliknya adalah remaja yang pernah bercinta di tempat itu…"

"Tiga tahun yang lampau, sepasang remaja memang pernah ke rumah itu."

"Tapi, mereka hanya datang sesekali. Itu pun tak lebih dari dua atau tiga hari. Bagaimana mungkin tiga tahun kemudian, dari rumah itu, sering keluar burung dara putih dengan wajah yang penuh duka"

"Ya, kita tak tahu apa yang mereka lakukan di rumah itu tiga tahun yang lalu. Kita hanya tahu apa yang telah terjadi setelah mereka tiga tahun tak lagi kemari."

"Apa yang telah mereka lakukan?"

"Kalau pun bercinta tiga tahun lampau, mereka tentu tak akan bisa menitipkan burung-burung di rumah itu. Apalagi, menciptakan telur burung dara putih, atau mempersiapkan sarang buat cicit burung piyik, yang tahu-tahu bisa terbang beberapa tahun kemudian lalu pergi ke langit," ujar yang lain.

"Siapakah mereka?"

Ya, siapakah mereka?

***

Orang-orang lalu mulai sibuk merenung, dan mengingat semua kenangan tentang sepasang remaja yang pernah datang ke tempat itu. Tiga tahun yang lampau, mereka berdua berjalan ke rumah yang selalu kosong itu dengan pakaian yang telah penuh debu. Seakan, angin telah mempermainkan pakaian kedua remaja itu sejak berhari-hari sebelum mereka akhirnya tiba.

Tak ada yang menegur kedua remaja hingga akhirnya mereka beristirahat di rumah itu. Kedua wajah yang penuh kelelahan, membuat para penduduk mengunci mulutnya, dan membiarkan pertanyaan terus bergelayut di benak mereka masing-masing. Bahkan, saat keduanya menutup pintu rumah kosong yang sudah tak terawat itu. Mereka berdua dibiarkan dalam kelengangan. Bahkan hingga malam berganti malam selanjutnya. Dua hari mereka tak pernah keluar kecuali untuk mandi di bilik kamar mandi yang sejak dulu kosong dan tak terawat itu.

Lelaki itu sempat keluar sebentar mengambil embernya dari sungai di belakang rumah kosong. Ah, apakah cukup dua ember untuk pasangan muda itu?Tapi, tak ada yang bertanya. Mata seakan telah mereka tutup untuk cinta si remaja. Seakan, para penduduk di tempat ini merasakan cinta antar keduanya yang telah begitu erat, dan membiarkan mereka larut dalam keabadian dan kesucian hatinya. Seakan, para penduduk menyaksikan sebuah kisah romantika seperti yang kerap ditayangkan di televisi yang menyala di rumah mereka atau juga kisah cinta lama mereka yang kurang lebih sama dengan kedua remaja.
Para bocah dan remaja anak-anak para penduduk itu pun ikut diam, dan tak ikut campur. Namun, mereka saling bercakap dengan kawan-kawannya tentang kehangatan cinta dua remaja, sibuk mengingat legenda cinta kuno, dan menghubung-hubungkannya dengan kisah lelaki dan perempuan muda itu. Kakek-kakek dan nenek-nenek ikut tersenyum, dan mulai menyelipkan kisah cinta keduanya di antara kisah klasik saat mendongeng buat cucu mereka. "Demikianlah, mereka sungguh tak berbeda dengan Joko Tarub-Nawang Wulan dan Proncitro-Roro Mendut," ujar seorang guru kepada para muridnya, pada suatu pagi yang cerah. Guru itu kemudian menatap rumah yang berisi kedua anak muda itu dari jendela kelas, sibuk membayangkan cinta suci antara keduanya terus terjadi, dan akan berlangsung dengan abadi.



***

“Kenapa kakek masih sering bercerita tentang rumah itu?"

"Sebab disanalah kakek pertama mengenal cinta."

"Maksud kakek, jatuh cinta kepada nenek…"

"Tidak, cinta pertama kakek hanya kepada perempuan itu."

"Ah, kakek ada-ada saja."

"Hmmm. Kamu, anak sekarang, memang tak akan pernah tahu tentang cinta sejati. Tak akan pernah tahu…"

"Akh, kakek ini, bisa saja. Nyindir, ya? Mentang-mentang saya playboy…"

"Tak ada maksudku menyindirmu, cucuku…"

"Siapa dia?"

"Seorang perempuan, dan dia bersayap."

"Kakek ada-ada saja. Memangnya perempuan yang kakek cintai itu seorang bidadari…"

"Barangkali, dia memang seorang bidadari…"

"Kakek mulai pikun. Saya serius, siapakah dia?"

"Aku pun tak pernah tahu. Kecuali, dia perempuan. Dan, dia bersaya. Barangkali, dia bidadari seperti katamu. Atau, dia malaikat…."

"Terlalu sulit dimengerti, Kek…."

"Tak perlu engkau mengerti. Cinta memang tak selalu untuk dimengerti, tapi dirasakan…"

"Ah, kakek kayak filsuf!"

"Hmmm…."

"Kakek tak pernah menyebutkan di kota mana …."

"Tak akan pernah aku menyebutkannya padamu. Sedang, seluruh orang di kota itu pun tak pernah tahu."

"Kenapa? Kenapa kakek merahasiakannya. Kenapa tak memberitahu di kota mana itu terjadi? Kenapa harus pake rahasia segala?"

"Tiap orang punya rahasia, cucuku…"

Si cucu pun diam mendapatkan jawaban yang mengunci dari kakeknya itu. Bila sudah berkata begitu, dia tak akan bisa lagi mendapat jawaban yang lain dari kakeknya itu.
Itu yang selalu terjadi pada akhir percakapan mereka.

"Kakek…!" ujarnya pelan.

"Hmmm?"

"Seberapa besarkah cinta kakek kepada nenek bila nyatanya kakek selalu bercerita tentang bidadari itu?"

Kali ini, si kakek tak menjawab. Kecuali, diam dan menghisap cerutunya. Kenangannya kembali menembus tentang masa lalunya, saat bercengkerama dan bersenda-gurau bersama kekasih di masa lalunya itu. Pada sebuah rumah, di tengah kota.
Kisah pertemuan masa silam itu, suatu saat, pasti akan terhapus juga oleh peta-peta waktu. Serupa beberapa lembar uban di rambutnya yang lepas, kulitnya yang keriput dan mengelupas, masa lalu hanya tinggal debu yang tertimbun kerumunan padang pasir.

***

"Apa yang kau lukis itu, anak muda?"

"Seekor burung dara…”

"Dan, lelaki itu?"

"Brotosilo, namanya.…"

"Nah, kalau perempuan yang menebar rambutnya dan menciptakan tangga-tangga untuk ke langit itu siapa? Kayaknya, dia jadi fokus di lukisanmu. Gede banget kamu nggambarnya .”

"Itu nenekku…"

"Pantesan, kamu nggak berani gambarin gadis di lukisan itu nude." ujar lelaki itu menggoda. Tawa ngakak terdengar. Namun, berhenti saat menyadari kalau si pelukis muda itu tidak ikut tertawa.

Muka si seniman itu malah menyiratkan ketersinggungan.
Si lelaki penikmat lukisan menyadarinya.

"Maaf, kalau saya lancang. Ngomong-ngomong, Brotosusilo itu kakekmu?"

"Bukan, nama kakekku Bayu Sutedja. Entah siapa, Brotosusilo itu.…"

"Kok , nggak tahu? Karanganmu saja?"

Pelukis muda itu menggeleng. Dengan mimik yang serius dan getir, dia menatap lukisan di hadapannya. Si pelukis muda pun mengucap pelan, "Nama itu, yang kerap mengalir dari bibir nenekku bertahun-tahun menjelang dia wafat."

"Siapa dia?"

"Aku tak pernah tahu. Tapi, katanya, dia seorang lelaki suci. Berwajah terang. Bersayap malaikat. Sampai sekarang, aku masih takjub pada perkataan nenekku itu…"

"Kau tak pernah menanyakannya?"

"Sudah. Tak pernah berhasil," ujar si pelukis muda.

"Akh, perempuan. Memang, selalu pandai menyimpan rahasia," ujar si lelaki penikmat, masih terus menyimak kisahnya tadi dengan heran.

"Ya, perempuan selalu penuh rahasia," tanggap pelukis muda itu lagi.

Si pelukis pun melanjutkan. "Itu sebabnya saya memutuskan untuk tidak menikah," ujarnya.

Dia pun kembali menggoreskan kwas pada lukisan yang belum selesai. Diguratnya lagi, sebuah rumah di antara lelaki dan perempuan yang berjalan dengan rambut ke atas pelangi. Di latar semua obyek, dilukisnya orang-orang berkerumun. Dilukisnya juga burung-burung darah putih yang keluar dari rumah itu. Sekarang, lukisan terbarunya sudah sempurna. Hasil karyanya jelas. Obyek orang-orang di dalam lukisannya itu sedang berusaha untuk menangkap burung-burung dara putih yang terbang. Tapi, tangannya tak mampu menjangkau. Burung darah putih itu terbang terlalu tinggi dan menghilang di balik awan. Tentu saja, semua usaha orang-orang itu, jadi sia-sia.

"Hmm, lantas, apa maksud burung dara putih itu?"

"Jawab saja dengan cintamu. Dengan hatimu. Bukan dengan otakmu. Itu juga perkataan nenekku. Sampai sekarang pun, aku masih merenungkannya," tandas si lelaki muda itu sambil terus menggores kuas di atas permukaan kanvas.


Jakarta, 2003

Siapa Tak Ingin Mencuri Sorga?

Oleh Danto



Sebisa mungkin, tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar. Pertama-tama, diharapkan ini bisa mengantarkan lahirnya Jaka Tarub, dan kemudian menjadi pengantar bertemunya Si Jaka, yang menurunkan raja-raja Jawa itu, dengan seorang tokoh mitologi Yunani yang dihukum para Dewa untuk mengerjakan pekerjaan yang sia-sia, Sisifus. Tulisan ini adalah buah dari pohon hasrat dan keinginan untuk melompat dari sisi tebing ini, dengan menggandeng “campuran” yang menyebar dalam budi dan pikiran Jaka Tarub, ke sisi tebing seberang sana, dimana Sisifus terus mendorong batunya sampai ke puncak gunung, dan menyaksikannya berguling-guling ke bawah lagi karena beratnya sendiri. Di jaman ini, pertemuan kedua tokoh ini sangat diperlukan, terutama karena siapa saja butuh untuk melipatgandakan dirinya.

~~~~~=*$$$*=~~~~~

Melahirkan kembali Jaka Tarub ditengah generasi yang terlanjur menganggap sepi kelebihan manusia untuk sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa dan sanggup juga menanggung segala kesia-siaannya dan kegelisahan pikirannya, jelas bukan hal yang memerlukan energi biasa-biasa saja. Keduanya tidak mau tenggelam kedalam idealisme dan tidak mau tertelan oleh empirisme.

Hebatnya lagi, generasi yang terlanjur menganggap sepi keyakinan terhadap segala kemungkinan yang bisa dilakukan manusia ini juga terlanjur merendahkan potensi tak terbayangkan dalam segala hal termasuk kebaikan dan kemuliaan yang dikandungnya sendiri. Dari mulut atau pikiran mereka, sering muncul kebijaksanaan yang dengan sangat jelas memberitahukan siapa mereka, dan apa yang bisa mereka kerjakan ditengah-tengah dunia ini; … kita hanyalah pupuk bawang, yang dilibatkan dalam percaturan sekedar supaya tidak menangis….

Kita toh sebenarnya perlu bersyukur karena memiliki mereka sebagai bagian dari generasi ini. Di lapisan terdalam kepribadian mereka, terdapat energi ketidak (mau) tahuan yang sangat besar, di atasnya adalah lapisan kesombongan, dan di atasnya lagi adalah kepengecutan. Senyawa dari ketiga hal itu adalah penyusun yang paling sempurna untuk menjadikan masing-masing dari mereka sebagai the reasonable man. Inilah jenis yang paling membutuhkan dunia supaya mereka bisa senantiasa menyesuaikan diri terhadapnya.
Melahirkan kembali Jaka Tarub di hadapan mereka adalah melahirkan kembali kesan negatif yang tertimbun dalam penggalan ingatan salah paham mereka. Tentu saja, karena Mas Jaka Tarub pakai mencuri selendang segala, sih, alasan mereka. Yang lain dengan lebih gagah menjelaskan ikatan bodoh yang dijalin Mas Jaka dan Dik bidadari Nawang Wulan hanya karena sebatas selendang. Sehingga, begitu Nawang Wulan menemukan kembali selendang itu, kaburlah dewi itu kembali ke tempat asalnya, Surga.

~~~~~=$***$=~~~~~

Generasi yang terus menerus memupuk ketidaktahuan sebagai benteng pertahanan ini, barangkali, juga menaruh minat yang besar terhadap feminisme, dan isme-isme, sepotong keju dan tepung terigu yang diaduk dengan potongan-potongan tulang sapi dengan bawang putih, garam, gula dan merica sehingga tak lupa mereka pun menunjukkan sikap kritis yang dewasa terhadap Nawang Wulan. Sikap itu ditunjukkan untuk menegaskan bahwa sang Bidadari, yang mau-maunya berserah diri untuk diperistri oleh Jaka Tarub itu, juga berperan membentuk ingatan negatif dalam benak masa kecil mereka.
Barang kali, masa kecil mereka adalah masa kecil yang tidak berani memandang surga sama dengan buah mangga tetangga, yang begitu jatuh ketangan kita tanpa tahu yang punya, rasa manisnya jadi terasa berlipatganda. Atau, jangan-jangan mereka menganggap buah mangga berjenis kelamin perempuan? Tapi, jika demikian, mereka juga yang harus bertanggungjawab atas jalannya pikiran mereka sendiri lepas bahwa kita di Jogja mengenal mangga sebagai pelem yang kemudian 'sesuai tradisi' sering berlanjut menjadi pelempuan.

~~~~=*$$$$$$$$$$$$…….

Maaf, jika ada kesinisan dalam nada bicara saya. Saya sekedar memantulkan wajah tertentu seseorang dengan apa adanya.

Tetapi, apa sih masalahnya ?

Begini, anda boleh-boleh saja tidak suka dengan segala yang saya bicarakan. Saya sama sekali tidak keberatan. Karena betapapun anda membenci tulisan saya -sebesar anda membenci Jaka Tarub atau Sisifus- anda tetap tidak bisa membuangnya begitu saja. Anda tentu begitu ingin melakukannya, karena tak tahan lagi membaca tiap kata yang dengan begitu yakin keluar dari benak saya yang kemudian menikam-nikam, bahkan meludahi harga dan kehormatan diri anda. Tapi, sungguh anda tak akan bisa benar-benar melakukannya, bukan?

Harusnya, anda tahu alasan utamanya. Secara umum, simbol fonetik yang saya hasilkan dapat dipastikan mewarisi setiap denyut kesadaran yang secara kodrati menjadi sifat organ dalam tubuh. Replika yang paling mendekati sempurna dari alam semesta. Karena itulah bahkan simbol fonetik, huruf-huruf itu, dapat “memberitahukan” suasana hati anda kepada udara. Huruf-huruf itu sangat terlatih dalam memanfaatkan segala ingatan anda tentang segala sesuatu. Dengan mengetahui segala ingatan sadar maupun tak sadar anda, mereka, huruf-huruf itu, dapat berpartisipasi di dalamnya dengan leluasa.

~~~***$***~~~

Baiklah saya tidak akan akan memperpanjang ketakutan Anda. Pada intinya, saya berbicara pada siapa yang dengan sangat dewasa mencukupkan diri sebagai pupuk bawang itu. Kenapa itu menjadi soal serius? Ijinkan saya bertanya. Siapa yang meminta anda datang kesini? Jikalau anda adalah seorang penganut agama yang baik, anda akan menjawab tanpa keraguan, Tuhan. Jika anda seorang religius orang yang paham religiositas- atau dengan kata lain orang tolol, anda akan menjawab, orang tualah yang menghendaki saya ada.
Siapapun anda dan jawaban apapun yang bisa anda berikan, saya tidak terlalu yakin bahwa anda sanggup menjawab bahwa anda datang kesini sepenuhnya karena kehendak anda sendiri kecuali anda pernah atau sedang serius mendalami bagian-bagian tertentu dari filsafat Jawa. Bukankah bahkan Yesus Kristus dan para nabipun tak ada yang mengeluarkan pernyataan seperti itu?

Jadi, kecuali anda pernah atau sedang serius mendalami bagian-bagian tertentu dari filsafat Jawa, andapun tentu berpegang pada keyakinan bahwa kita kesini bukan karena kehendak kita sendiri. Konon kabarnya, sebelum meledakkan kepalanya sendiri dengan pistol, Adolf Hitler mengucapkan kata-kata mutiara ini; “Saya tidak pernah minta untuk dilahirkan.” Lupakan! Lupakan! HAAH! Hidup toh hanyalah latihan pertunjukan yang tidak pernah dipentaskan, kata Hipolito. Mari kembali ke Jaka Tarub.

~~~~~=*$$$*=~~~~~

Jaka Tarub. 'Jaka' menunjukkan bahwa dia lelaki (muda) yang selangkah lagi bergabung dengan masyarakat menjadi lelaki dewasa. Tarub berasal dari bahasa Arab, taroqum, yang kurang lebih berarti, meditasi.

Meskipun bukan aktifitas gerak motoris, meditasi merupakan sebuah proses pencarian batin. Itu sebabnya kenapa dalam tradisi Jawa, bertapa diistilahkan sebagai laku. Berjalan. Perjalanan. Pergerakan batin. Itu mengingatkan kita kepada seseorang, nda? Bagi saya, ya. Henri Bergson, orangnya













~~~~~=*$$$*=~~~~~

Henri Bergson (1859-1941) adalah seorang filosof Prancis yang lahir di Paris. Pemenang hadiah Nobel untuk sastra tahun 1927.

Filsafat Bergson bersifat evolusioner, tetapi tidak materialistik. Kehidupan diintuisikan sebagai aliran batiniah. Perubahan-perubahan material dan badaniah merupakan mekanisme dari aktivitas spiritual. Aktivitas manusia dalam dirinya sendiri mengandung sebuah kebebasan yang berbeda dari mekanisme ini. Sebagai contoh, ada dua jenis waktu yang berbeda secara radikal: (a) waktu terukur (waktu alamiah; waktu obyektif; waktu konseptual; waktu mekanis) dan (b) waktu pengalaman kita yang mengalir, intuitif, dan langsung. Waktu terukur bersifat matematis, simbolik, bagian dari penjelasan fisik, menggunakan satuan-satuan atau momen standar yang diukur melalui berkas-berkas spasial pada kronometer, jam,dll. Waktu terukur dilihat sebagai perluasan, homogen dan memasuki masa depan dengan arah linear kedepan.

Waktu intuitif dan batiniah kita bersifat tak dapat balik. Ia mengalir secara aktif dan membaur dengan sangat kental ke dalam diri sehingga aktivitas atau proses waktu itu tak dapat dibagi-bagi. Namun ia bersifat heterogen (terdiri atas serentetan kualitas-kualitas dan peristiwa-peristiwa yang berbeda), konkret, tidak abstrak, nyata, tidak simbolik, langsung, tidak terlepas secara obyektif, berlanjut dan mengalir secara aktif. Ia dialami dan dirasakan dengan cepat dan intuitif; selalu menjadi bagian dari kesadaran kita. Sedangkan waktu terukur itu bersifat khayali, tetapi dipandang oleh para ilmuwan sebagai waktu riil.

Bergson menganjurkan penggunaan élan vital yang diintuisi untuk dapat mengetahui daya-daya sejati yang bekerja pada setiap hal. Pengetahuan tentang élan vital merupakan dasar penjelasan yang benar bagi perubahan, dan bagi evolusi alam semesta.
Élan vital (bhs. Prancis); dorongan hidup, prinsip hidup, denyut kehidupan, sebuah term yang digunakan dalam teori-teori evolusi kreatif dan tidak mekanistik (seperti teori Bergson) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa organisme hidup berevolusi menjadi semakin kompleks sepanjang waktu. Élan vital adalah (a) daya yang mendorong kehidupan ke struktur dan organisasi yang semakin tinggi dan (b) daya kreatif yang memberi arah pada evolusi. (kamus Filsafat halaman 89)

~~~~~=*$$$*=~~~~~

“Tapi, kenapa harus dengan mencuri? Dan, kenapa harus menipu Nawangwulan, sang bidadari?”

“Karena, itulah dadining carita, sebab musabab yang melahirkan sejarah manusia dan kemanusiaannya. Jaka Tarub membutuhkan Nawangwulan untuk memulai proses menyejarahnya, dan Nawangwulan membutuhkan pelindung, di tengah dunia yang serba buas dan tak dikenalnya. Jadi, barangkali ini memang sebuah kewajaran budaya.”

“Sayang, akhir ceritanya menyakitkan. Nawangwulan menemukan selendangnya, dan terbang kembali menuju Khayangan, ke tempat dia berasal.”

“Lho, bukankah itu justru semakin menegaskan konteks kemanusiaannya? Bukankah siapa saja akhirnya bisa pergi ke khayangan juga? Nawangwulan, bukannya pergi karena dia kecewa dan menyesal atau bermaksud melupakan sejarah yang ditempuhnya, sampai lahir putra dari pernikahan mereka, tapi yang dimaksud disini, ya dia mati….
Urusannya dengan dunia sudah selesai.

~~~~~=*$$$*=~~~~~

Dalam buku Mite Sisifus halaman 155 terjemahan Apsanti. D, Camus (kamu?) menulis begini; “kita sudah mengerti bahwa Sisifus adalah sang pahlawan absurd… Sikapnya yang meremehkan para dewa, penghinaannya terhadap kematian… harus dibayarnya dengan siksaan tak terperikan dengan mengerahkan seluruh dirinya untuk tidak menyelesaikan apa pun. Itulah harga yang harus ia bayar untuk segala nafsu di bumi ini… Mengenai mite yang satu ini, kita hanya melihat usaha suatu tubuh yang meregang untuk mengangkat batu raksasa, menggelindingkan dan mendorongnya di lereng berulang-ulang tanpa berhenti… Di ujung usaha yang lama, dalam dimensi ruang tanpa langit dan waktu tanpa dasar itu, tercapailah tujuannya…

Saya melihat laki-laki itu turun kembali dengan langkah berat tetapi teratur ke arah siksaan yang tidak ia ketahui kapan akan berakhir. Saat yang bagaikan nafasnya sendiri, dan yang pasti kembali lagi seperti halnya kesengsaraannya, saat itu adalah saat kesadaran. Pada saat ketika ia meninggalkan puncak gunung dan sedikit demi sedikit masuk ke sarang para dewa, ia lebih tinggi dari pada takdirnya. Ia lebih kuat dari pada batunya. …

Seluruh kegembiraan Sisifus terletak di sana. Nasibnya adalah miliknya. Batunya adalah bendanya. …Tiada matahari tanpa bayangan dan kita harus mengenal malam. Manusia absurd mengatakan ya, dan usahanya tak akan pernah berhenti. Jika takdir pribadi itu ada, tak ada takdir yang lebih tinggi, atau setidaknya hanya ada satu yang dinilainya fatal dan nista. Selebihnya, ia tahu bahwa dirinyalah yang menguasai hari-harinya. …Sisifus kembali lagi ke arah batunya, merenungi rangkaian tindakan tanpa kaitan itu yang menjadi takdirnya, yang diciptakan olehnya, terpadu dibawah tatapan ingatannya… semua yang manusiawi bersumber pada manusia… .”

Pemaparan yang luar biasa itu diakhiri dengan; “Perjuangan ke puncak gunung itu sendiri cukup untuk mengisi hati seorang manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.” Anda bisa bayangkan seberapa besar energinya? HAAH !!!

~~~~=*$$$$$$$$$$$$…….

Baik, kita toh harus mengalah pada akhirnya. Langit hanya satu. Musim tak bisa lebih according to mister Gunawan Mohamad: hidup Utan Kayu, betapapun kita tak lagi punya utan belantara! Tapi, dengan sadar, saya memang akan berlaku agak curang. Seperti saya sampaikan di awal tadi, saya dan susunan simbol fonetik yang dihasilkan atau yang terlahir kembali melalui saya, sebisa mungkin, akan sampai pada tahap mempertemukan kedua tokoh itu. Saya beranggapan bahwa dengan demikian keduanya telah bertemu. Apa yang akan terjadi kemudian dan apa yang akan mereka lakukan, tidak akan saya panjang-lebarkan. Namun, sisifus telah mengajarkan kesetiaan lebih tinggi yang menyangkal para dewa, dan mengangkat batu-batu besar. Ia juga menilai bahwa semua baik adanya(Mite Sisifus, hal. 159).


Dalam keseluruhan bangunan fisik cerita yang berbeda, Jaka Tarub juga menyampaikan hal atau tema yang sama pada akhirnya. Namun, dengan laku yang berbeda, anda akan mendapatkan ilmu dan tingkat energi yang berbeda pula. Setidaknya, kita tahu bahwa Jaka Tarub sendiri, maupun imajinasi kita yang menghidupinyasetidaknya sampai saat inidicegah untuk mempertemukan Jaka Tarub dengan penanggung jawab swarga, dan meminta supaya Nawang Wulan dikembalikan lagi ke dunia. Atau, melompati tembok swarga begitu saja, dan sekali lagi, mencuri Nawang Wulan dengan kereta impiannya.
Batas itu, kesia-siaan itu, begitu saja menerkamnya. Dan, dia merasakan keterbelahan yang sama. Absurditas? Saya belum menemukan istilah lain. Konon kabarnya, begitu kita lahir kita sebenarnya mengalami tidur panjang. Jadi, kehidupan ini adalah mimpi. Kematian berarti terjaga, dan bangun lagi. Waking life (?). Waktu memang bisa terasa amat keras terhadap siapa saja yang bisa bermimpi….

Republik Indonesia, Propinsi DIY, Kabupaten Bantul, Kecamatan Kasihan, Kelurahan Tirtonirmolo, Dusun VII Jogonalan Lor, September , 2003