Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2007

Nama

Oleh J Prata Diharja, SJ

Dia duduk menerawang ke atas, dan tersenyum. Dia bakal melaksanakan rencana yang menurut dia sendiri gila. Kemudian beranjak dari duduknya, pelan-pelan melangkah ke depan. Mulai berjalan. Dia masih tersenyum-senyum memikirkan rencananya.

Nah, tiba-tiba ada gagasan muncul untuk menemui seorang anak. Siapa saja tak pandang bulu, asal dia seorang anak. Untuk kemudian langkahnya tidak tanpa tujuan: menemui seorang anak kecil. Nah, itu dia seorang anak berjalan menuju kepadanya.

"Hei, nak siapa kamu?"

Anak itu tak menjawab. Hanya tersenyum.

"Siapa namamu?”

Malah si anak mengikik sambil menggigit ketiga jari kirinya, dan berlari kecil agak menghindar dari orang tua yang berjenggot memutih dan bercambang itu. Anak kecil itu sudah tahu siapa orang tua itu dan apa pekerjaannya, namun dia senang mengganggu, dan bergurau dengannya.

"He he heee ... hik hik hik .... Mau apa kek?”

"Mau menanyakan namamu. Siapa kamu hei?"

"Namaku ...? Bodong!"

Kini kakek itu ganti terkekeh-kekeh mendengar nama itu.

"Kek, saya minta uangnya."

Kakek itu terkekeh-kekeh lagi.

"Engkau mau uang? Mari, ikut saya, asal kamu mau ...."

"Ah, nggak mau! Jangan-jangan, kau suruh aku telanjang, lalu kau gambar anuku."

Kakek itu terpingkal-pingkal lagi sambil menepuk-nepuk bahu anak itu.

"Tidak, tidak ..., mari to ikut aku."

"Segera, kekek berjalan menuju ke rumahnya. Anak kecil mengikuti agak jauh di belakangnya.

Sampai di rumah.

"Mari masuk! Duduklah!"

Sementara anak kecil itu duduk sambil mengagumi lukisan-lukisan dan hasil karya di sekitarnya, orang tua itu masuk ke ruangan dalam. Kemudian, orang tua yang masih kekar itu keluar lagi dengan membawa kain kanvas serta beberapa cat berwarna serta kuas. Lalu, ia mengeluarkan beberapa uang lima ratusan.

"Nah, kau mau ini?"

Si anak diam saja, menatap orang tua dengan penuh pertanyaan.

"Boleh kamu miliki uang ini. Nah, simpanlah dulu di dalam sakumu!"

Si anak tambah bingung ketika kakek itu memasukkan uang itu ke dalam saku celananya. Belum pernah ia memiliki uang sebanyak itu. Lalu, kakek dengan senyum lebar menepuk-nepuk bahu si anak. Tapi, dengan demikian, kini si anak itu kaku, dan merasa dibatasi ruang geraknya. Tidak bisa lagi dia mempermainkan Pak Tua.

"Nah, sekarang saya minta tolong. Gambarkan pada kain ini awan-awan seperti yang biasa kamu lihat."

"Gambarkan?" Itulah pertanyaan yang timbul di benak si anak. Bukankah dia sendiri seorang pelukis besar dan ternama? Mengapa menyuruh si anak kecil yang tak tahu menahu untuk menggambarkannya? Anak itu lama terdiam sambil menggigit jari.

"Aku tidak bisa, Kek."

Kakek itu terkekeh-kekeh.

"Tidak apa-apa Gus, sebisamu saja. Jangan takut! Ayo coba, Nak! Engkau akan kujadikan pelukis seperti saya, kalau kamu mau. Bila kamu sekiranya malu, akan kutinggalkan tempat ini, dan kau bisa senaknya menggambar. Okey? Baik."

Kemudian, kakek masuk ke ruangan dalam dengan tersenyum-senyum. Di dalam sana, dia merenung, menyusun rencana selanjutnya untuk usaha yang satu itu. Lalu, anak itu dengan sangat hati-hati dan takut mulai mencoba menggunakan cat dan mengoles kuas pada kain kanvas dengan maksud menggambar sebagaimana yang diminta oleh kakek. Setengah jam kemudian, anak kecil berteriak-teriak memanggil-manggil kakek.

"Keeek, sudaaah ..., tidak bisa ...."

Lalu, kakek datang berlari-lari dengan senyum pengharapan. Sedangkan, anak itu meringis kamalu-maluan.

Melihat hasilnya, kakek itu mengangguk-angguk sambil kedua tangannya memegang kedua lengan si anak.

"Bagus, bagus! Nah, ternyata kamu pinter! Sekarang coba di bagian ini gambarkan sebuah cakar ayam. Sini, di bagian bawah dari awan-awan.

"Kakek menoleh ke wajah anak. Terjadi, pertemuan pandangan yang kontras. Yang satu pandangan memimpin dan yang lain pandangan bertanya-tanya. Dipegangnya bahu anak itu, digoyang-goyangkan, dan diciumnya dengan kegembiraan.

"Nah, selamat bekerja!"

Kakek masuk lagi ke ruangan dalam diikuti oleh pandangan anak kecil itu. Di luar rumah, ranting-ranting dan dahan-dahan mengangguk-angguk digerakkan angin. Di dalam, lukisan-lukisan yang berbentuk topeng-topeng terasa menertawakan si bocah. Tersadar dari lamunannya, bocah itu kembali ke kanvas meneruskan kewajibannya. Dia terpaksa berusaha menggambar sebuah cakar ayam.

Setengah jam kemudian, orang tua itu datang lagi.

"Nah, bagaimana Nak?"

"Tidak bisa Kek."

"Ha, ha, haaaa .... Bagus, bagus! Sudah, sudah! Sudah cukup, Gus!"

Sambil mengangguk-angguk dielusnya kepala anak itu, sedang anak itu tak habis bertanya-tanya.

"Nah, Gus ... sekarang sudah selesai. Mau pulang atau mau melihat-lihat di sini dulu? Terserah ....Oya, ini masih ada kembang gula sedikit, ambillah! Atau, mau minum?"

"Tidak Kek, saya mau pulang saja. Sudah ya, Kek"

"Mau pulang? Oo ... terima kasih, terima kasih. Besok main ke sini lagi ya, Gus."

Si anak itu terus lari meninggalkan sanggar ciptaannya. Sedangkan, orang tua terduduk terkekeh-kekeh sendirian dengan bebasnya. Terkekeh-kekeh dan terkekeh-kekeh lagi. Diambilnya kuas kecil, dan dioleskannya sebuah tanda tangan pada bagian bawah kanan lukisan itu. Belum lama juga ia telah membubuhkan tanda tangan untuk sajak-sajak seorang penyair yang karena belum punya nama, sajak-sajaknya yang matang itu selalu ditolak oleh majalah-majalah dan koran-koran di kotanya. Setelah penyair itu menggunakan nama pelukis tua ternama yang kebetulan penyair juga, sajak-sajaknya mulai bermunculan di majalah-majalah. Lucu. Sungguh permainan yang lucu. Kini, dia benar-benar mau membuktikan thesisnya yang akhir-akhir ini menjadi buah renungannya. Tapi, itu baru akan terlaksana nanti.

Akhirnya, telah berlalu pula masa yang ia tunggu-tunggu. Pameran Tunggalnya. Dan, bakal menguji thesis yang telah diyakininya dengan pameran yang akan digelarnya di kota Metropolitan. Berarti pameran itu memiliki bobot nasional. Bahkan, internasional. Dan, kehidupan ini adalah panggung ujian yang sesungguhnya. "Non scholae, sed vitae" kata orang-orang sono. Bukan di sekolah, tetapi di kehidupan ini berlangsung ujian yang sebenarnya.

Seperti biasanya, pameran kali ini banyak dikunjungi orang. Namun, entah karena apa, mungkin karena sedang resesi ekonomi, pada pameran ini yang terbeli hanya 3 lukisan. Tetapi, lumayan harganya; bisa untuk menutup semua biaya pameran. Bahkan, masih tersisa 7 juta rupiah. Pameran tunggal sudah selesai. Kali ini, karya-karyanya yang terjual tak sebanyak yang sudah-sudah. Sungguh suatu warna yang menyolok dalam lukisan sejarah hidupnya. Barangkali, peristiwa ini tak terlupakan. Bukan karena kali ini, karya-karya yang pada pameran biasanya selalu terjual lebih dari 50%, kini hanya terjual 3 buah dari 90 lukisannya. Tetapi, justru di antara yang terjual itu, terdapat satu-satunya lukisan anak kecil itu.

"Ini sungguh lukisan yang paling modern, berseni sangat tinggi yang pernah kujumpai. Inilah versi yang merupakan perkembangan pesat dari karya-karya Bung Arifin. Suatu warna baru!"

Demikianlah komentar seorang pejabat tinggi, penggemar koleksi lukisan dari pelukis-pelukis ternama yang telah punya otoritas besar.

“Ah, tak terkatakan. Hanya bisa dirasakan, dinikmati, dan direnungkan dengan diam," lanjutnya.

Kemudian, dibayarnya lukisan itu dengan uang 5 juta rupiah. Maka, tak habis-habisnya pelukis itu tersenyum, tertawa sendirian, dan terkekeh-kekeh menertawakan kelucuan dunia.

"Memang," katanya dalam hati, "Dunia ini menilai suatu karya hanya berdasarkan otoritas penciptanya. Meski bagaimanapun bentuk karyamya, tapi kalau sang pencipta sudah punya otoritas besar dan kuat, karya itu akan selalu dihargainya. Mereka berasumsi terlebih dahulu. Bukannya karya demi karya itu sendiri, melainkan karya demi penciptanya."

Seorang penyair berbakat harus mencari nama terlebih dahulu dengan mendapatkan pengakuan dari khalayak. Untuk itu, dia mesti menulis pada majalah yang sudah punya otoritas pula, misalnya. Sedangkan, untuk bisa agar karangannya diterima di majalah, terlebih dahulu sudah diandaikan nama. Seorang redaksi yang menerima karangan, entah berbentuk cerpen, puisi, atau tulisan ilmiah lainnya, terlebih dulu dalam hatinya akan bertanya: "Siapakah pengarangnya? Apakah dia sudah punya nama? dsb., dst....” Nama mengandaikan nama. Kalau begitu, bagaimana orang akan mulai kariernya? Sebaliknya bagi orang-orang yang sudah punya nama di kalangan publik, tinggal memasang namanya di setiap karyanya. Apapun karyanya, ia akan mendapat tempat. Seorang penyair tinggal memuntahkan kata-kata yang aneh, dan tak dimengerti massa. Seorang kritikus tinggal melemparkan penilaiannya. Dan, itu akan dipakai sebagai patokan. Bahkan, nama itu bisa disalahgunakan untuk karya orang lain. Ini berlaku bagi orang-orang yang punya otoritas seperti pejabat, cendekiawan, kritikus, seniman, dan semacamnya.

"Nama! Nama! Nama! Sekali lagi nama!”

Secara tak disadarinya kata-kata itu mencuat dengan keras dari mulutnya. Baru kemudian, tersadar bahwa dia telah berteriak-teriak dengan menggebu-gebu. Terhenyak dari lamunannya oleh suaranya sendiri.

"Ah, akan terciptakan orang-orang besar karena nama, koneksi, dan bukan karena prestasi di negara ini?"

Ia berdiri dan berjalan ke rumah sambil membawa kekhawatiran akan masa depan negaranya.

Selesai pulang pameran, pelukis itu mencari si Bodong, anak kecil yang telah berhasil mengelabuhi dunia. Setelah ketemu, dipanggilnya anak itu, diciumnya, dan diberinya sepeda mini. Anak itu amat sangat senang. Sejak saat itu, terjadilah persahabatan dan kerja sama antara pelukis tua dengan si Bodong, bocah ingusan itu.

Kisah Burung Dara Putih dan Sebuah Lukisan

Oleh Sihar Ramses Simatupang



Tidak pernah ada yang tahu, burung dara putih milik siapa yang kerap keluar dan terbang dari rumah itu. Orang-orang kota ini hanya tahu bahwa seekor demi seekor burung dara selalu keluar dari rumah, dan terbang pergi dengan memperlihatkan kedukaan di wajahnya.

Burung yang usianya sangat muda, terlihat indah bulunya, terbang dan menghilang ke langit lepas. Terbang dan tak pernah lagi kembali.

Rumah itu memang sejak dulu tanpa penghuni. Tak ada suara, kecuali mereka sering mendengar setiap waktu selalu saja ada suara burung piyik mencicit sebelum akhirnya seekor burung dara putih muda muncul tiba-tiba dari wuwungan rumah, dan hinggap sejenak untuk kemudian terbang dan pergi.

Suara cicit piyik itu kadang teramat enak untuk didengar, terkadang mirip sebuah keluhan dan kerinduan. Suara yang terdengar mulai pagi, siang, sore, namun berhenti di saat malam hari. Agak lain dari biasanya, suara itu memang bukan misteri dan ganjil, yang mengundang tafsir takhyul buat sekelilingnya.

Tidak setiap orang adalah penduduk asli di sekitar rumah itu, tetap merasa akrab pada suara yang diperdengarkan dari rumah itu. Hingga berminggu-minggu, suara burung dan burung dara putih yang terbang itu selalu muncul. Hingga berbulan-bulan. Hingga bertahun-tahun.

***

"Pasti pemiliknya adalah remaja yang pernah bercinta di tempat itu…"

"Tiga tahun yang lampau, sepasang remaja memang pernah ke rumah itu."

"Tapi, mereka hanya datang sesekali. Itu pun tak lebih dari dua atau tiga hari. Bagaimana mungkin tiga tahun kemudian, dari rumah itu, sering keluar burung dara putih dengan wajah yang penuh duka"

"Ya, kita tak tahu apa yang mereka lakukan di rumah itu tiga tahun yang lalu. Kita hanya tahu apa yang telah terjadi setelah mereka tiga tahun tak lagi kemari."

"Apa yang telah mereka lakukan?"

"Kalau pun bercinta tiga tahun lampau, mereka tentu tak akan bisa menitipkan burung-burung di rumah itu. Apalagi, menciptakan telur burung dara putih, atau mempersiapkan sarang buat cicit burung piyik, yang tahu-tahu bisa terbang beberapa tahun kemudian lalu pergi ke langit," ujar yang lain.

"Siapakah mereka?"

Ya, siapakah mereka?

***

Orang-orang lalu mulai sibuk merenung, dan mengingat semua kenangan tentang sepasang remaja yang pernah datang ke tempat itu. Tiga tahun yang lampau, mereka berdua berjalan ke rumah yang selalu kosong itu dengan pakaian yang telah penuh debu. Seakan, angin telah mempermainkan pakaian kedua remaja itu sejak berhari-hari sebelum mereka akhirnya tiba.

Tak ada yang menegur kedua remaja hingga akhirnya mereka beristirahat di rumah itu. Kedua wajah yang penuh kelelahan, membuat para penduduk mengunci mulutnya, dan membiarkan pertanyaan terus bergelayut di benak mereka masing-masing. Bahkan, saat keduanya menutup pintu rumah kosong yang sudah tak terawat itu. Mereka berdua dibiarkan dalam kelengangan. Bahkan hingga malam berganti malam selanjutnya. Dua hari mereka tak pernah keluar kecuali untuk mandi di bilik kamar mandi yang sejak dulu kosong dan tak terawat itu.

Lelaki itu sempat keluar sebentar mengambil embernya dari sungai di belakang rumah kosong. Ah, apakah cukup dua ember untuk pasangan muda itu?Tapi, tak ada yang bertanya. Mata seakan telah mereka tutup untuk cinta si remaja. Seakan, para penduduk di tempat ini merasakan cinta antar keduanya yang telah begitu erat, dan membiarkan mereka larut dalam keabadian dan kesucian hatinya. Seakan, para penduduk menyaksikan sebuah kisah romantika seperti yang kerap ditayangkan di televisi yang menyala di rumah mereka atau juga kisah cinta lama mereka yang kurang lebih sama dengan kedua remaja.
Para bocah dan remaja anak-anak para penduduk itu pun ikut diam, dan tak ikut campur. Namun, mereka saling bercakap dengan kawan-kawannya tentang kehangatan cinta dua remaja, sibuk mengingat legenda cinta kuno, dan menghubung-hubungkannya dengan kisah lelaki dan perempuan muda itu. Kakek-kakek dan nenek-nenek ikut tersenyum, dan mulai menyelipkan kisah cinta keduanya di antara kisah klasik saat mendongeng buat cucu mereka. "Demikianlah, mereka sungguh tak berbeda dengan Joko Tarub-Nawang Wulan dan Proncitro-Roro Mendut," ujar seorang guru kepada para muridnya, pada suatu pagi yang cerah. Guru itu kemudian menatap rumah yang berisi kedua anak muda itu dari jendela kelas, sibuk membayangkan cinta suci antara keduanya terus terjadi, dan akan berlangsung dengan abadi.



***

“Kenapa kakek masih sering bercerita tentang rumah itu?"

"Sebab disanalah kakek pertama mengenal cinta."

"Maksud kakek, jatuh cinta kepada nenek…"

"Tidak, cinta pertama kakek hanya kepada perempuan itu."

"Ah, kakek ada-ada saja."

"Hmmm. Kamu, anak sekarang, memang tak akan pernah tahu tentang cinta sejati. Tak akan pernah tahu…"

"Akh, kakek ini, bisa saja. Nyindir, ya? Mentang-mentang saya playboy…"

"Tak ada maksudku menyindirmu, cucuku…"

"Siapa dia?"

"Seorang perempuan, dan dia bersayap."

"Kakek ada-ada saja. Memangnya perempuan yang kakek cintai itu seorang bidadari…"

"Barangkali, dia memang seorang bidadari…"

"Kakek mulai pikun. Saya serius, siapakah dia?"

"Aku pun tak pernah tahu. Kecuali, dia perempuan. Dan, dia bersaya. Barangkali, dia bidadari seperti katamu. Atau, dia malaikat…."

"Terlalu sulit dimengerti, Kek…."

"Tak perlu engkau mengerti. Cinta memang tak selalu untuk dimengerti, tapi dirasakan…"

"Ah, kakek kayak filsuf!"

"Hmmm…."

"Kakek tak pernah menyebutkan di kota mana …."

"Tak akan pernah aku menyebutkannya padamu. Sedang, seluruh orang di kota itu pun tak pernah tahu."

"Kenapa? Kenapa kakek merahasiakannya. Kenapa tak memberitahu di kota mana itu terjadi? Kenapa harus pake rahasia segala?"

"Tiap orang punya rahasia, cucuku…"

Si cucu pun diam mendapatkan jawaban yang mengunci dari kakeknya itu. Bila sudah berkata begitu, dia tak akan bisa lagi mendapat jawaban yang lain dari kakeknya itu.
Itu yang selalu terjadi pada akhir percakapan mereka.

"Kakek…!" ujarnya pelan.

"Hmmm?"

"Seberapa besarkah cinta kakek kepada nenek bila nyatanya kakek selalu bercerita tentang bidadari itu?"

Kali ini, si kakek tak menjawab. Kecuali, diam dan menghisap cerutunya. Kenangannya kembali menembus tentang masa lalunya, saat bercengkerama dan bersenda-gurau bersama kekasih di masa lalunya itu. Pada sebuah rumah, di tengah kota.
Kisah pertemuan masa silam itu, suatu saat, pasti akan terhapus juga oleh peta-peta waktu. Serupa beberapa lembar uban di rambutnya yang lepas, kulitnya yang keriput dan mengelupas, masa lalu hanya tinggal debu yang tertimbun kerumunan padang pasir.

***

"Apa yang kau lukis itu, anak muda?"

"Seekor burung dara…”

"Dan, lelaki itu?"

"Brotosilo, namanya.…"

"Nah, kalau perempuan yang menebar rambutnya dan menciptakan tangga-tangga untuk ke langit itu siapa? Kayaknya, dia jadi fokus di lukisanmu. Gede banget kamu nggambarnya .”

"Itu nenekku…"

"Pantesan, kamu nggak berani gambarin gadis di lukisan itu nude." ujar lelaki itu menggoda. Tawa ngakak terdengar. Namun, berhenti saat menyadari kalau si pelukis muda itu tidak ikut tertawa.

Muka si seniman itu malah menyiratkan ketersinggungan.
Si lelaki penikmat lukisan menyadarinya.

"Maaf, kalau saya lancang. Ngomong-ngomong, Brotosusilo itu kakekmu?"

"Bukan, nama kakekku Bayu Sutedja. Entah siapa, Brotosusilo itu.…"

"Kok , nggak tahu? Karanganmu saja?"

Pelukis muda itu menggeleng. Dengan mimik yang serius dan getir, dia menatap lukisan di hadapannya. Si pelukis muda pun mengucap pelan, "Nama itu, yang kerap mengalir dari bibir nenekku bertahun-tahun menjelang dia wafat."

"Siapa dia?"

"Aku tak pernah tahu. Tapi, katanya, dia seorang lelaki suci. Berwajah terang. Bersayap malaikat. Sampai sekarang, aku masih takjub pada perkataan nenekku itu…"

"Kau tak pernah menanyakannya?"

"Sudah. Tak pernah berhasil," ujar si pelukis muda.

"Akh, perempuan. Memang, selalu pandai menyimpan rahasia," ujar si lelaki penikmat, masih terus menyimak kisahnya tadi dengan heran.

"Ya, perempuan selalu penuh rahasia," tanggap pelukis muda itu lagi.

Si pelukis pun melanjutkan. "Itu sebabnya saya memutuskan untuk tidak menikah," ujarnya.

Dia pun kembali menggoreskan kwas pada lukisan yang belum selesai. Diguratnya lagi, sebuah rumah di antara lelaki dan perempuan yang berjalan dengan rambut ke atas pelangi. Di latar semua obyek, dilukisnya orang-orang berkerumun. Dilukisnya juga burung-burung darah putih yang keluar dari rumah itu. Sekarang, lukisan terbarunya sudah sempurna. Hasil karyanya jelas. Obyek orang-orang di dalam lukisannya itu sedang berusaha untuk menangkap burung-burung dara putih yang terbang. Tapi, tangannya tak mampu menjangkau. Burung darah putih itu terbang terlalu tinggi dan menghilang di balik awan. Tentu saja, semua usaha orang-orang itu, jadi sia-sia.

"Hmm, lantas, apa maksud burung dara putih itu?"

"Jawab saja dengan cintamu. Dengan hatimu. Bukan dengan otakmu. Itu juga perkataan nenekku. Sampai sekarang pun, aku masih merenungkannya," tandas si lelaki muda itu sambil terus menggores kuas di atas permukaan kanvas.


Jakarta, 2003

Reliabilitas Kebenaran: Studi Kepercayaan atas Ingatan

Oleh Cindy Hapsari
K e m a n a b u n y i p e r g i ?

Bagaimana proses bunyi1/ suara baik secara biologis, psikologis, maupun ideologis dari tubuh manusia terbentuk? Bagaimana (proses) tiga item tersebut terangkai dan bergerak menjadi kenyataan yang terlihat maupun sebaliknya?

Pertanyaan itu selalu mengejar saya, bahkan hingga hari ini. Hingga ketika kegagalan menjawab menyeruak menjadi sebuah pintu yang hadir tepat didepan mata, saya lalu berlari, sedikit berputar, untuk mengeja proses awal sebelum bunyi / suara terjadi. Satu asumsi dasar yang saya pegang hanyalah kenyataan bahwa bunyi / suara, yang sampai pada gendang telinga maupun yang tak (pernah) tersampaikan sesungguhnya menyampaikan potensi yang sama, yakni potensi untuk diperlihatkan.

*

Hingga suatu malam, kami berbincang, saya dan beberapa kawan lain tentunya. Kami mencari tahu apakah sesungguhnya bunyi / suara, dari mana ia datang dan kemana ia menghilang (paling tidak setelah diucapkan atau terdengar). Kami juga mencari tahu apakah sebenarnya bunyi adalah semacam mahluk sama seperti kita manusia. Pertanyaan-pertanyaan itu menggiring kami untuk terus berasumsi. Awalnya kami mengatakan, mungkin bunyi / suara adalah 'semacam mahluk'. Yang kedua, sama seperti waktu, kami menganggap bumi memiliki sifat kelampauan. Asumsi ini sudah pasti diteruskan bahwa ia juga memiliki sifat kekinian, dst2. Perkara bukti empirik yang meneguhkan sifat-sifat itu memang sulit dirumuskan. Tapi sama seperti contoh asumsi Jorge Luis Borges (1999:31) ketika ia menuturkan “penalaran-semu-benar” pada kisah Tlon, Uqbar, Orbis Tertius3, pada perkara ini pun kami sepakat.

Sampai di suatu ujung, kami yakin bahwa, bunyi / suara, adalah manifestasi dari kerja dialektik manusia yang bergerak karena sebuah rumus, yakni pertarungan gagasan antara kisi eksternal dan internal subjektif manusia sebagai seorang individu sekaligus sebagai mahluk sosial yang bersifat historik. Turunan mudahnya adalah lahirnya pertarungan antar gagasan. Ini terjadi karena pola sebagai seorang manusia mengharuskan ia untuk selalu merumuskan nilai, kepercayaan, paham sebagai sebuah realitas yang dapat diamininya sebagai kebenaran. Bunyi / suara kemudian menjadi sebuah pernyataan sikap4. Ia sama dengan t i n d a k - t u t u r.

*

Kisah bunyi / suara itulah yang pada akhirnya mengingatkan sekaligus mengantar saya kepada tradisi lisan, sebuah pola tutur yang diteruskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Konsep yang cenderung tradisional itu, pada penyebarannya mengandalkan 'semangat untuk berbagi'. Satu kisah diceritakan dari satu kepada yang lain. Kabar itu seperti bunyi / suara yang datang terburu-buru dan pergi tak lama kemudian, hingga kadang fenomena itu justru dianggap sebagai gossip. Kebenaran pada titik itupun bersaing memenangkan pasar wacana. Namun perkara tersebut semakin 'menjadi-jadi' lantaran perang kepentingan termasuk kekuasaan yang melingkupinya5.

Sebagai akibat, lahir apa yang disebut mitos, legenda, dongeng, gosip, dsb.

***

Aku berdiri memandang garis batas cakrawala. Matahari belum muncul meski hari bergerak siang. Suasana asin melekat pada tubuh. Anak-anak menendang bola, tertawa tak hirau. Tak ada ikan hari ini, tak ada hasil hari ini, suara-suara disekitarku saling bersaut. Rona coklat keras berkeringat. Kini sebuah perahu bernama Mawar Samudra unjuk gigi. Mereka tak peduli berita tengah samudra. Tidak ada layar dan mereka terus berjalan. Tiga laki-laki menyurung kapal, minggir-mingir! Suara mereka menghardik orang disekitarnya, termasuk aku. Tenaga-keringat, dan niat berduyun-duyun disatukan dalam harapan. Dalam hitungan menit saja mereka berhasil berdiri ditengah gelombang.

Di hadapanku sebuah perahu nelayan menerjang ombak, terhuyun-huyun melewati gulungan. Semua orang berteriak-seakan membantu keseimbangan sang perahu. Tak nampak apapun, hanya kemenangan gelombang berdiri diatas manusia. Segala laksana habis. Jerih terkulai, asa singgah pada entah. Mata memapar tindak ucap. Tak ada doa, tak ada doa, hanya hati berdegup kencang….

*

Simbahku bilang, ada kisah yang tidak boleh di kabarkan, dan peraturan itu tidak boleh dilanggar. Lebih-lebih jika berkait suara tanpa rupa; hawa kehidupan.

***

Awalnya kisah ini dituturkan dalam beberapa lembar daun lontar bertulis hurup Arab pegon. Entah canggah keberapa yang menyalin bahan tersebut kedalam bahasa kawi, ratusan tahun silam. Aku sendiri tidak begitu pandai bahasa Jawa, apalagi Kawi, syukurlah dahulu ibu sudah pernah menterjemahkannya. Digenggamanku kini, sebuah gulungan kertas berisi kisah Ganjur menuturkan riwayatnya. Walau naskah tak lengkap dimana-mana, demikianlah kira-kira gubahannya:

Adalah pasti bahwa kisah ini dituturkan langsung dari tetes kebaikan, semata demi menjadi samudra kebenaran dalam hidup manusia, juga embun penyejuk hatinya.

[catatan: pada bagian awal ini sama sekali tak terdapat sengkala atau waktu penanda teks lainnya. Termasuk pembagian naskah berdasar asmaradana, dhandanggula, sinom, juga pasal pembagian nomor dan lainnya. Aku yakin seluruh bahan telah disalin hanya saja selip untuk beberapa kasus. Naskah dibawah disusun berdasar pembacaanku saja]



Demikianlah awalnya, alkisah seorang Raja terkemuka, yang bertahta antara samudra-giri, pada tanah subur tak kurang karena kaya, gulana karena puteri kesayangannya, Roro Madhura yang kemudian waktu disebut dengan Dewi Galuh Sekarmadhi, terpaut hati dengan seorang pemuda jelata nan gagah lagi bijak, Bara Mahetala. Hubungan mereka yang demikian mendapat tentangan, karna raja memiliki rencana berbeda bagi sang puteri. Waktu itu kerajaan bersitegang dengan Nagari Sabrang Timur, sebuah negeri tak besar namun kaya armada laut. Oleh karenanya, demi membangun perluasan negri serta mengikat penaklukan dengan jalan damai, sang puteri diajukan demi berjodoh dengan putera mahkota Nagari Sabrang Timur. Hubungan demikian sudah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak. Galuh Sekarmadhi terikat janji dengan Kambanaswara.

Sang raja yang terkenal bijak kali ini seperti masuk pada perangkap. Ia tak mufakat dengan kehendak sang puteri. Dalam dirinya perkara nagari jauh lebih penting. Lagipula menjadi satriya kulandara selain tugas adalah kewajiban yang patut disangga setiap putera nagari dan tak berbeda, berlaku demikian jua bagi puteri-puterinyanya. Hal demikian, turun temurun berlaku bagi segenap bhumiputra. Sebab ada sabda bertutur 'kalengka nagari' (mustika negri) mudah terwujud apabila penyatuan wilayah dapat dilakukan tanpa pertumpahan darah. Semakin sedikit darah membayar adalah semakin baik, lebih-lebih tiada darah yang melunasi sebuah kisah.

Dewi Galuh Sekarmadhi, sang jelita yang sohor karna budi pekerti juga hati mulia diseantero negri, tak alang gigih memohon pada ayahandanya tercinta. Pada pikir juga hatinya, tugas demikian patut dilaksanakan dan benar adalah kewajiban anak nagari. Namun perkara yang disebut hanya dapat dilaksanakan apabila jiwa-raga-suksma menerimanya. Jika perkara ini gagal dilalui niscaya kalengka nagari juga tak akan terwujud. Yang demikian tentu menyulitkan seluruh putera-puteri nagari dan dapat menjadi ganjalan. Bagi Dewi Galuh Sekarmadhi, keutuhan hanya dapat dicapai dengan penemuan kesejatian, dan salah satu cara yang disebut adalah dengan merekatkan hati pada buah kehidupan sebenarnya; rahsa dan demikianlah seseorang menjadi kasatriya sesungguhnya. Perjalanan disebut, dipercaya sang dewi, jauh memiliki guna serta manfaat ketimbang menegakkan nagari dengan kepincangan pribadi.

Sang raja semakin gulana, ia merasa diri laksana Drestaratya. Kurawa dan Pandawa sama anak-anaknya. Kekuasaan dan kedamaian puterinya sama patut diperjuangkan. Tapi bukan semata kekuasaan nagari yang hidup dibenaknya, adalah satu perkara lebih rumit tumbuh subur bersamaan. Adalah Bara Mahetala, laki-laki pujaan hati anaknya, diketahui memiliki bibit Wanabaya yang satu waktu kelak menurunkan Mangir II. Dan hal demikian tak mungkin berlaku sebab kalengka nagari jauh lebih terancam karena runut masalah disebut.



Suatu kali demi membicarakan perkara, tiga Patih utama dikumpulkan. Patih Tirtanagara, Parangteja dan Rodha Askara datang menghadap. Tak lupa juga raja mengundang bibi penasehat kerajaan, Sekar Cakrabawa. Silang kata tak terhindar. Pembicaraan berjalan meski lepas malam bergulir. Raja calawenthah, dipikir putri dan masa depan nagarinya.

[sampai bagian ini, salinan tidak jelas. Tinta termakan umur dan kertas termakan karat waktu. Dari sisa kata yang terbaca dapat dikira bahwa ada pertentangan pendapat dalam memecahkan masalah itu. Sekar Cakrabawa berkeras menggagalkan niat ketiga patih untuk meniadakan Bara Mahetala. Para patih mengkhawatirkan nagari apabila Bara Mahetala memiliki akses kekuasaan. Terutama mengingat latar belakang Bara Mahetala. Menurut mereka bukan tak mungkin akan muncul pergolakan sebagai upaya balas dendam demi membayar darah yang dahulu pernah tertumpah. Sekar Cakrabawa mengatakan alur sejarah pada waktunya tak dapat ditiadakan. Meniadakan Bara Mahetala hanyalah menunda waktu bagi ledakan yang lebih besar. Sebab Kalacakra, menggiling-menggulung sama seperti Amos yang datang dengan tiba-tiba atau sama pula dengan Anakonda yang mungkin meluluhlantahkan mangsanya dengan cepat. Kalacakra tidak dapat ditiadakan ia hanya mungkin dialihkan namun demikian biaya pengalihan akan lebih besar dibanding biaya apapun yang pernah dikeluarkan manusia. Hanya kerelaan yang sepadan dengannya. Demikianlah sekitar perbincangan mereka pada bagian ini. Sulit menjelaskan selebihnya]

Setelah purnama pasang lewat beberapa waktu dan musim berganti, demi keteguhan hati sang puteri yang kokoh laksana hawa nirkala terus hidup, sang rajapun tegas menetapkan putusan. Ia demi kasihnya pada sang puteri, akhirnya merelakan Galuh Sekarmadhi dan Bara Mahetala pergi. Keduanya diasingkan pada hutan dalam jauh masuk pelosok wilayah selatan yang gelap. Sebagai denda nagari keduanya tidak diijinkan memiliki buah turunan. Demikianlah, takut menjadi ingatan tak lekang oleh jaman. Ia berbuah tindak yang dibenarkan surat ketetapan nagari.

Berat hati melepas kepergian. Pada pagi buta, dihantar secarik sabit keduanya tentram berjalan meninggalkan jejak tak bernama pada nagari. Sejak saat itu tak ada lagi kisah Galuh Sekarmadhi dan Bara Mahetala disebut. Tak terdengar barang seucap kata terlontar. Penyelesaian perkara Kambanaswara tiada jelas. Hanya diketahui nagari tersebut remuk redam sebab alam, setelah waktu berselang.

Demikianlah pasangan bahagia itu. Dalam hutan gelap mereka membangun bersama. Sukacita karna kerja dan karya. Lahan terbangun, wilayah cadas berbalik barokah. Tiada galau membuntuti hati.


Pula Bara Mahetala, paham diri dan berjanji teguh pada laku. Meski tak ayal godaan kerap datang bertanya: gerangan apakah salahnya, hingga ia wajib lalui segala. Seketika itu peneguh menghampiri dan berkata-kata: “sebab semata dirimulah yang pada waktunya akan meneguhkan apa makna juang, himpun, dan ikhwal pengorbanan. Demikianlah kelak dinda akan dikenang”. Meski demikian Bara Mahetala terkadang sempat berbantah lidah, ia merasa tak layak karna banyak perilaku demikian. Tapi sang suara kembali meneguhkan hatinya dan mengucap: “ada baiknya dinda percaya sebab jagadpun tak kan genap bila kenal bahagia tanpa sengsara. Itulah sangga dunia”. Godaan makin hari gagal melemahkan, ia malahan meneguhkan jua menguatkan Bara Mahetala dan Galuh Sekarmadhi. Pada Sang Hyang sembah diujudkan.

Hingga akhir hayat tiada kembali mereka pada nagari. Pada kematian, keduanya meninggalkan: Asokha Ahimsa.

Mati bukan habisnya kisah. Perjalanan panjang lapis kedua harus dilampaui. Putaran haruslah dilewati. Demikianlah, ia sebab dianggap batu ganjalan, menjalani hidup di bawah tekanan dan banyak cobaan. Bukan saja semasa hidupnya, bahkan setelah kematiannya, tidak banyak orang mengetahui dengan pasti kisahnya. Seluruh catatan itu seperti keong pada cangkang hanya pada saat yang tepat dapat keluar diperlihatkan.
Suatu waktu, sebelum tahta genap sepuluh diturunkan. Raja muda yang paham perkara temurun itu muram. Hatinya galau sebab kisah demikian dikubur demi menghapus sejarah kehidupan. Tapi iapun tak kuasa berbuat, lebih-lebih nenek moyangnya sendiri yang mendera. Limbung karna nurani benar, raja muda diam-diam meninggalkan kerajaan. Ia menepi di atas gunung tertinggi. Tapabrata lebih dari 33 purnama dibuat dengan hening sempurna. Selama perginya nagari dipimpin oleh Yudhanagara, patih yang bijak. Ia menjalankan titah dengan baik. Pada waktunya tiba, turunlah raja muda kembali pada peraduan. Dalam hatinya berkumandang gending. Demi tak lama lahir Kolo Ganjur sebagai tanda bhakti serta cinta pada pasangan tersebut dan sejarah tersimpan.

Karang kuasa yang angkuh tiada benar serta menurunkan derajat perikehidupan dikikis satu persatu, dibayarnya hutang terdahulu dengan peluh jua semangat. Perkara demikian sudah barang tentu jauh dari mudah, beberapa caci tiba dengan tuduhan raja muda meniadakan harkat juga martabat leluhur.

[bagian ini menceritakan kisah mangkatnya raja muda. Hanya tertulis: Raja muda akhirnya mangkat cepat dari tahta sebab moksa. Tiada padhang turunan penerus tahta juga kisah para patih bijak. Tapak mereka tiada lain semata debu dalam alas Persi. Tidak ada keterangan lebih yang membicarakan silsilah raja penerus. Juga tak ada penjelasan tentang jatuhnya raja muda dan pengikut juga bagaimana nasib mereka akhirnya]

Kini gending raja muda menjadi pengiring pengantin ketika memasuki pelaminan. Kolo sama paham dengan tali sementara ganjur berangkat dari gonjo, yang punya arti serat inti. Inilah Gending lambang ikatan dasar yang jadi jembatan bagi manusia untuk kerja, karya sekalian arung hidup sampai utuhnya

[gubahan masih menyisakan beberapa lembar halaman terakhir. Sayangnya lagi-lagi tinta samar. Mungkin aku ringkas saja patahan-patahan kata itu. Lembar-lembar terakhir ini aku rasa berisi semacam bacaan jaman pada kelak walau tetap terikat dari waktu dan kisah yang kita bicarakan tadi. Aku pastikan bahwa pasangan yang disebut adalah Galuh Sekarmadhi dan Bara Mahetala yang kemudian beroleh sebut Demang Ganjur atau Ki Jo Ganjur dan Nyi Jo Ganjur, sesuai Gending buatan sang raja muda. Demikianlah suatu hari ada nagari yang disebut dengan namanya]

Kelak ada masa, kuburnya tak lagi dikenal. Orang tak tahu apa atau siapa. Mereka berdua akan berada pada bata tanpa Srengenge mengunjungi: tepat disamping manusia bertemu dan saling ria. Tak ada paham datang mengetahui, sebab ruang dan waktu menyembunyikan kisah. Batara Kala belum lagi sudi. Hanya hawa menutur berjalan. Baik-buruk pada salah-benar menjadi kerudung wajah tiada terbaca.

[naskah terputus]

Sebuah tempat luas, sangat indah, menaungi bata tanpa srengenge. Itulah pondok bagi seorang asing yang bernegri jauh dari timur. Mereka akan mengusung apa yang telah diolah oleh pasangan itu. Ladang lebar, keuntungan melimpah, juga tempat-tempat tinggal bagi sakit dibuat. Rupanya demikianlah nasib menyatukan pasangan tersebut dengan segala asing sekaligus besar. Setelah itu akan tiba masa, bahkan nisan merekapun tak akan tersisa, juga kerangka yang ada di padanya.

[penjelasan selanjutnya sama sekali tak terbaca. Hanya kalimat terakhir yang jelas terkutip: Adalah asa, kelak manusia kenal warta berkat lara teramini… Demikianlah kisah ini]

*

Sebuah candi bertengger ramai dikunjungi warga. Mereka berurutan berharap berkah dari tanah yang kaya dan air murni yang terkandung di dalamnya. Doa-doa berlompatan darinya. Dahulu, tak berjarak jauh, komplek pabrik gula, rumah besaran, gereja, candi, sekolah dan panti dibangun oleh seorang Belanda. Dalam salah satu kamar di rumah besaran itulah, kali terakhir nisan pasangan tersebut ditemukan. Kini lepas ratusan tahun, lahan berganti menjadi rumah toko dan lapangan bola. Alas menthaok tempat pengasingan, hanya berjarak 20 kilometer saja dari Jogjakarta. Kini, jika saja kalian paham, risalah pembuangan belum lagi kenal kata usai. Ini, satu yang tersebut, diluar… masih banyak kisah berserak. Dan tuas kembali berputar.



***

Simbahku pernah berkata: ada kisah yang tidak boleh di kabarkan, dan peraturan itu tidak boleh dilanggar. Tapi kali ini aku akan ceritakan sebuah kisah. Mungkin sebuah kisah yang tidak masuk akal, tapi aku mempercayainya. Karena semakin besar aku tahu, tingkat kebenaran tak semata-mata dihitung berkat perkalian empirisisme dalam deret hitung tapi juga berkat reliabilitas dalam aturan acak yang memiliki pola serupa. Dan kebaikan, itu adalah hal yang berbeda…

*

Di hadapanku, sebuah perahu nelayan menerjang ombak, terhuyun-huyun melewati gulungan. Semua orang berteriak-seakan membantu keseimbangan sang perahu. Tak nampak apapun, hanya kemenangan gelombang berdiri diatas manusia. Dimenit-menit penghabisan, saat raut semakin kecut, setitik tiang menggambar dalam pandangan. Masih terhuyun-huyun, olala.. angin membawa tegap. Suara tawa dan syukurpun gemuruh.

***

Lalu bagaimana dengan cerita diatas?

Bagaimana reliabilitas kebenaran dalam cerita tersebut? Sebagai awam mungkin kita akan cepat mengambil kesimpulan bahwasanya cerita diatas lebih cenderung dekat dengan mitos. Andai saja kita mau berhati-hati sejenak, ditengah gelombang tafsir makna yang sedang pasang itu, kita tetap akan melihat potensi benar dalam kisah.

Sebagai bahan rujukan kita dapat pula menggunakan kisah / legenda Aji Saka. Selain dianggap sebagai perumus konsep hurup Jawa Ha Na Ca Ra Ka, Aji Saka juga dianggap sebagai Raja I di Pulau Jawa. Kisah ini sudah turun temurun diakui bahkan sudah sejak dahulu. Pada dasar pahamnya, tokoh Aji Saka bagi sebagian orang dianggap fiktif. Seorang kawan malah mengatakan bahwa Aji Saka adalah rumusan manipulatif karena sejak awal ia mengetahui kisah itu, tidak ada keterangan barang sedikit yang mendukung gambarannya sebagai seorang anak kecil. Apakah kisah itu rekaan ataukah Aji Saka sesungguhnya pernah ada dan hidup di Negri ini, sulit dipastikan. Namun yang jelas dan tidak dapat digugat sebagai sebuah dasar kebenaran adalah; kenyataan bahwa ha-na-ca-ra-ka tetap digunakan (bahkan hingga saat ini!) sebagai abjad Jawa, sebagai simbol bahasa mereka6.

*

Bunyi / suara yang pada awal tulisan ini menjadi bahan kajian utama, menemukan konteksnya terutama ketika kita bicara mengenai tradisi lisan. Ia, dengan sebuah kehendak diturunkan terus hingga melampaui jaman berganti. Seperti telah disebut, bunyi / suara kemudian menjadi sebuah pernyataan sikap. Dan tradisi lisan dapat menjadi satu fenomena menarik yang dapat kita kaji, diluar paradigma lain yang bersifat empirik. Kyai Jo Ganjur dan Aji Saka, kali ini menjadi bahan referensi awal untuk memahami bagaimana bunyi / suara dapat menjadi media budaya dan tidak semata-mata hanya dipandang sebagai mitos tanpa guna. Atau seperti kata Gunawan Moehamad dan Tony Prabowo: Mengembalikan kata pada bunyi.

C.C. Berg, seorang sejarahwan Belanda pernah menolak setiap informasi yang disampaikan babad (Al Qurtuby, 2003:95) sebab paparan yang ada didalamnya dianggap penuh mitos. Tetapi pada dasarnya mitos juga berguna sebagai bahan pembacaan. Al Qurtuby (2003:98) menyebut mitos berguna untuk melihat kembali asal-muasal kehidupan, dasar kebudayaan, dan tingkatan terdalam pikiran manusia. Mitos, katanya lagi, berurusan dengan makna. Mitos dalam suatu masyarakat memberi manusia konteks yang membuat kehidupan rutin mereka masuk akal. Mitos mengarahkan perhatian mereka pada yang abadi dan yang universal.

Barthes (dalam Fiske, 2004: 183) mengatakan mitos berbasis kelas: maknanya dikonstruksi oleh dan untuk kelas dominan secara sosial, namun makna disana seolah-olah adalah suatu yang alami. Sementara Levi-Strauss mengatakan mitos sebagai cara menghadapi kecemasan dan masalah yang dihadapi bersama oleh seluruh masyarakat7.

Meski kedua pendapat diatas berbeda namun gambaran diatas setidaknya membawa kita untuk memahami bagaimana rangka dan cara kerja budaya dan sistem sosial. Terutama untuk melihat bagaimana tradisi lisan memiliki kecenderungan untuk berubah atau bergerak menjadi mitos. Hal itu malahan membuat kita satu langkah lebih maju dalam memetakan perkembangan kebudayaan manusia. Tema ini terutama diperkokoh dengan apa yang dikatakan Foucault berkenaan dengan genealogi dan arkeologi pengetahuan.

Bagi Foucault sejarah perkembangan peradaban manusia, terutama selalu dilihat dari struktur wacana dominan yang berhasil membuat kultus baru dalam masyarakat. Konsep pengetahuan yang ada telah jalin menjalin dengan konsep kekuasaan yang akhirnya bermuara pada lahirnya wacana dominan. Keadaan tersebut membuat catatan sejarah tidak pernah dapat merangkum kenyataan yang sesungguhnya. Didalamnya akan selalu ada bias terutama akibat sistem keberpihakan dari si pencatat dan struktur hegemoni yang telah menjadi rangkaian memori kolektif baru dan justru dipercaya umum. Kebenaran dalam tingkatan ini menjadi hal yang patut dipertanyakan secara mendasar. Misalkan bagaimanakah sesungguhnya kenyataan dan struktur eksternal (baca hegemoni wacana dominan) dalam hal ini dapat menghasilkan sebuah pemahaman baru dan dipercaya oleh umum. Untuk mengeliminir hegemoni tersebut, Foucault menawarkan konsep sub altern8 lewat genealoginya.

Genealogi terutama berusaha memberi kesempatan kepada sejarah-sejarah pinggiran atau catatan terbuang agar memperoleh tempat yang layak. Bagi Foucault, kebenaran akan menjadi proses dialektika yang menarik ketika sub altern dapat hadir kepermukaan. Dengan demikian peran yang dimainkan keduanya dapat terus saling melengkapi kenyataan yang ada. Pernyataan Foucault itu tentu sangat relevan terutama jika kita bicara dalam konteks Indonesia.

*

Sejarah perkembangan budaya termasuk kekuasaan didalamnya cenderung bergerak dalam pola yang hampir sama, yakni mengelola makna, memanfaatkan mitos dan mengendalikan ingatan dalam memori kolektif yang ada.


Karna kecenderungannya pengelolaan makna tersebut, kisah-kisah formal yang dihasilkan dari produk kekuasan selalu memiliki bias ideologi. Akibatnya, kebenaran dalam fenomena sosial selalu bersifat bertingkat. Pada titik inilah tradisi lisan bergerak menjadi oposan yang berguna untuk mengimbangi sekian catatan formal yang telah dilegalisir menjadi sejarah kebenaran. Akibatnya, diluar catatan sejarah yang tercatat, berkembang pula cerita rakyat atau folkore9 yang juga diyakini nilai, makna dan kebenarannya dalam masyarakat10.

Oral history is an account of something passed down by word of mouth from one generation to another. Oral history is considered by some historians to be an unreliable source for the study of history. However, oral history is a valid means for preserving and transmitting history. Experience within literate cultures indicates that each time anyone reconstructs a memory, there are changes in the memory, but the core of the story is usually retained. Over time, however, minor changes can accumulate until the story becomes unrecognizable.
-- http://encyclopedia.laborlawtalk.com/Oral_tradition

Oral history is a history built around people. It thrusts life into history itself and widens its scope. It allows heroes not just from the leaders, but from the unknown majority of the people. It brings history into, and out of, the community. It helps the less privileged, and especially the old, towards dignity and self-confidence. It makes for contact and thence understanding between social classes and between generations… oral history offers a challenge to the accepted myths of history, to the authoritarian judgment inherent in its tradition. It provides a means of a radical transformation of the social meaning of history.
in The Voice of the Past, by Paul Thompson

Dan, reliabilitas11 dalam kerangka ini menempatkan kebenaran sebagai sebuah produk jaman yang kadang bahkan- bisa berdiri diluar penilaian empirik positivisme. Bersanding dengan validitas, pada titik ini kita seakan-akan diberi kesempatan untuk dapat mencoba memahami 'yang lain' dari 'aku' atau 'ia' yang cenderung selalu lebih dominan, dengan pola atau alat ukur yang (juga) tetap dapat dipertanggungjawabkan secara sosial12.

Dan justru ketika kecenderungan untuk menempatkan 'yang lain' telah dilahirkan, kita malahan akan dapat melihat perannya sebagai penjembatan, sekaligus sebagai salah satu mata rantai (kita) untuk membaca dan memahami konteks sejarah yang berjalan. Ia dapat menjadi bunyi / suara yang bertahan ditengah jaman dan menjadi pendulum memori kita.

K e m a n a b u n y i p e r g i ?

Adalah sama seperti kita mempertanyakan pasca kematian. Apakah jagad, kebenaran serta manusia sebagai mahluk penutur akan kembali menitis dalam abjad yang tersusun dalam ingatan? Mungkin, kadangkala kita harus mempercayai suatu hal yang tidak dapat kita percayai, termasuk kesempatan dan kebetulan yang terikat dalam buntal kehidupan…

Sebelum mengakhiri tulisan ini, sebuah artikel DR. Leo Kleden, SVD13 menarik untuk dijadikan refleksi “Kebetulan dalam majalah Horison No. 12 (Des 1991) saya membaca sebaris puisi Sapardi Djoko Damono:

dalam setiap kata yang kau baca selalu ada
huruf yang hilang
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sel-sela kenangan penuh ilalang.

Bila kita, sejumlah cendekiawan hari ini, kembali ke kampung halaman (dalam artian kultural), apakah yang akan kita temukan lagi? Sebuah aksara budaya yang hilang `di sela-sela kenangan penuh ilalang`? sebelum semuanya terlambat, sanggupkah kita menemukannya kembali?”

Pawon Pot, Lor Djogja, 2005
Seringkali kita merasa congkak.
Dan adalah hasilnya: sebuah keadilan yang terlalu dipaksakan'

REFERENSI

Al Qurtuby, Sumanto (2003), Arus Cina-Islam-Jawa : Bongkar Sejarah atas Peranan
Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI ,
Yogyakarta : Inspeal Ahimsakarya press.

Borges, Jorge Luis (1999), Labirin Impian (terjemahan), Yogyakarta : LKiS

Danandjaja, James (2002), Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain,
Jakarta, Grafiti.

Fiske, John (2004), Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling
Komprehensif (terjemahan), Yogyakarta : Jalasutra.

Kleden, Leo (Des 1993), Bahasa Sebagai Struktur, Wacana, dan Kondisi Eksistensial :
Menggali Tradisi Lisan, Ende-Flores: Pustaka Misionalia Candraditya, Seri II/1.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (ed), (1995), Metode Penelitian Survey,
Jakarta, LP3ES.

CATATAN

Cerita diatas diambil dari Kisah Pada Gelombang: sebuah catatan tentang arus kehidupan (diolah dari tradisi lisan kisah pembentukan wilayah Ganjuran: dari berbagai sumber dan versi)

CATATAN AKHIR

1 Bunyi / suara. Definisi kedua item tersebut seperti 'hampir disamakan'. Terlebih dalam tulisan ini konteks bunyi kemudian selalu dilekatkan dengan suara (bunyi / suara). Dasar pemahaman itu adalah, bahwa bunyi maupun suara, bagi penulis selalu berelasi dengan konsep pemaknaan. Konsep pemaknaan ini lahir sebagai dasar peran dan fungsi f i l s a f a t b a h a s a dalam kehidupan manusia. Bedanya adalah bunyi menunjuk sesuatu (atau kita sebuat saja subjek material) yang tidak (begitu) dikenal / berjarak (dengan si pembicara) sedang suara cenderung menunjuk subjek material yang 'dekat', 'dikenal' atau secara psikologis memiliki kedekatan dengan pembicara. Semacam: konsep mengada, lewat suara ia menjadi bunyi. Lebih jelas lihat kamus besar atau sosiolinguistik.

2 Sebagai perumpamaan adalah konsep penguapan air. Air secara material, naik dan kemudian menjadi awan. Ia kembali menjadi air lewat hujan. Lingkar dialektika alam ini menjadi peneguh bahwasanya bunyi / suara memiliki sifat yang sama. Contoh lain adalah perhitungan jarak cahaya dan bunyi pada kasus petir. Hal itu menunjukkan udara menjadi medium penghantar bunyi sepersekian setelah cahaya.

Dengan pola demikian ada proses sebab-akibat yang berulang pada bunyi / suara. Asumsi ini dibicarakan untuk menjawab apakah bunyi / suara memiliki kemungkinan menggugat setelah ia dilepaskan dari ruang dan waktu (kekinian). Mudahnya, bayangkan suara-suara korban kekerasan: 65, Calabai dari komunitas Bissu, Desa Galung, Ulaweng Bone, Sulawesi Selatan dan berbagai kelompok lainnya. Kini setelah waktu bergulir, 'suara-suara' mereka seakan datang bagai bah 'membawa arus balik' menuturkan sekian fenomena mereka, yang mungkin 'pernah tak kita pahami'.

Pernyataan ini sesungguhnya hanya berperan mengingatkan kita, bahwa apa yang kita ucapkan / katakan, suatu hari kelak akan datang meminta pertanggungjawaban kita. Tidak heran bila ada seseorang yang sangat berhati-hati pada diksi, terutama bagi mereka yang paham akar kata. Dan yang demikian sama sekali bukan perkara esoteris semata. Bunyi / suara sebagai mahluk sepadan dengan peribahasa 'lidah bercabang seperti ular' juga 'mulutmu adalah harimaumu'.Atau seperti judul dalam sebuah cover buku: Kata adalah Senjata (!)

3 Untuk jelasnya sedikit petikan dari cerpen 'Tlon, Uqbar, Orbis Tertius' milik Borges, “Pada hari Selasa, X melewati sebuah jalan lengang dan kehilangan sembilan keeping koin tembaga. Hari Kamis, Y menemukan di jalan itu empat koin, agak berkarat akibat hujan hari Rabu. Hari Jumat, Z menemukan tiga koin di jalan tadi. Jumat pagi, X menemukan koin di koridor rumahnya. [Sang penyebal mencoba melakukan deduksi, dari cerita ini, tentang realitas yakni kontinyuitas sembilan koin yang ditemukan kembali itu.] Sungguh muskil [tandasnya] membayangkan empat dari sembilan koin tersebut tidak eksis antara Selasa dan Kamis, tiga koin antara Selasa dan Jumat, dua koin antara Selasa dan Jumat pagi. Adalah logis berpikir bahwa kesemuanya eksis setidaknya secara rahasia, tersembunyi dari pemahaman manusia pada tiap saat dari tiga rentang waktu tersebut”.

Untuk perkara ini seorang kawan mengatakan bahwa mengamini keterbatasan adalah kesalahan. Tapi kami menyadari bahwa keterbatasan adalah bagian dari manusia yang kadang tidak bisa ditolak. Persoalan mendasar yang bisa digagas justru lebih dari itu, yakni bagaimana mengolah potensi yang ada untuk menjawab atau membuka kunci-kunci pengetahuan demi membebaskan diri dari keterbatasan dan bukan memperkarakan batas keterbatasan manusia.

4 Tapi tak lama saya langsung meralat, bahwasanya ini tidak terjadi melulu pada bunyi, bunyi / suara. Hal tersebut juga berlaku pada bentuk penampakan lainnya: gerak, gerak tubuh, perilaku, (yang memiliki sejarah kelampauan) dan akhirnya hal tersebut berlaku ketika kita bicara tentang sebuah karya, apapun tampilan materialnya.

5 Benar dan salah selalu menjadi polemik Hal ini terjadi berkat nilai politis yang dikandung tiap perkara. Sementara baik dan buruk cenderung menegaskan hal-hal dengan sifat yang sangat mendasar. Misal mencuri, sudah barang pasti adalah perilaku yang buruk tetapi bukan tak mungkin ia menjadi 'benar' karena pertimbangan (argumen) lain yang melandasinya: mencuri karena faktor ekonomi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat, dsb, dsb. Selain itu kita juga akan mendengar ragam versi dari, misalkan saja, babad. Tiap babad dianggap mewakili kepentingan tertentu. Dan karna penulis (pujangga) pada saat itu bekerja (baca: mengabdi) pada raja, maka ia menghasilkan tulisan 'sesuai pesanan / kehendak' raja.

'Atas nama kebenaran' aksi tandingan lahir dari kaum oposan. Kelompok ini demi 'meneguhkan kepentingannya', juga mengimbangi karya-karya pesanan itu. Salah satu yang memungkinkan adalah melalui penuturan. Alhasil, setelah beberapa waktu kita hanya akan disuguhi aksi saling tuding dari masing-masing kelompok kepentingan itu (ingat kisah kematian Rongowarsito, kontroversi Syeh Siti Jenar, Cabolek, versi masuknya Islam ke Nusantara, Kisah Benua Atlantis, Segitiga Bermuda juga Sejarah Gereja Khatolik). Bersyukurlah bahwa dalam fenomena 'lisan' tersebut kadangkala masih terselip pesan moral, sosial yang dapat digunakan.

6 Dalam artikel “KELAHIRAN HA-NA-CA-RA-KA” pada www. jawapalace.org, disebut “Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.

Secara tradisional beranggapan bahwa kelahiran ha-na-ca-ra-ka berkait erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar (Kats 1939) Lajang Hanatjaraka (Dharmabrata 1949) dan Manikmaya (Panambangan 1981). (...)

Konsepsi secara Ilmiah. Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. ... Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan tertua yang ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Pallawa menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi (Casparis, 1975 : 29) jauh sesudah bahasa Jawa yang tertua digunakan secara lisan. Setelah ditemukan beberapa prasasti yang lain, secara berangsur-angsur dilakukan studi paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil deskripsi yang menggembirakan (lihat Molen 1985 : 4). Namun hingga kini masih sedikit jumlah karya tulis yang membicarakan paleografi Jawa. Karya tulis tentang paleografi Jawa baru dimulai pada awal abad XIX, seperti yang dilakukan oleh Raffles (1871) Stuart (1863) dan Keyzer (1863).”

7 Perbedaan ini terutama karena pokok kajian Barthes ditujukan untuk mengkaji masyarakat kapitalis akhir abad ke-20 sementara Levi-Strauss lebih berkonsentrasi pada mitos pada masyarakat kesukuan. Lebih lengkap tentang perbedaan ini lihat John Fiske, Cultural And Communication Studies, Jalasutra, 2004.

8 Alternity, sebuah domain relasi dominan dalam prosesi pengetahuan antrosentris, di mana “diri” merumuskan definisinyakeber“Ada”annyadan konteks relasinya dengan “Yang Lain” (atau altern). Sub-Altern merupakan pengembangan akan relasi dominan dalam wilayah domestik sebuah bangsa, khususnya bangsa yang terjajah dan mempelajari pengetahuan dari rasionalisasi sejarah ke-Diri-an Barat. Ini menciptakan tingkat-tingkat kelas yang saling berkuasa dan membentuk wilayah ideologi. Tentang sub altern, lihat Ania Loomba, Kolonialisme / Pascakolonialisme, Bentang, 2000.

9 encyclopedia.laborlawtalk.com/Folklore menyebut folklore sebagai “is the ethnographic concept of the tales, legends, or superstitions current among a particular ethnic population, a part of the oral history of a particular culture.” Lebih lengkap lihat sejarah folklore dalam Danandjaja, James (2002), Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Jakarta, Grafiti.

10 Dengan memanfaatkan peran “pewaris aktif” (active bearers) kedudukan tradisi lisan dapat bertambah kuat. Pewaris aktif, menurut Danandjaja adalah orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang satu atau lebih bentuk tradisi lisan. Di samping menikmatinya, seorang pewaris aktif mengamalkan serta menyebarluaskannya kepada masyarakat luas.

11 Reliabilitas dalam definisi Djamaludin Ancok disebut sebagai “istilah yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengukuran relative konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih”. Lebih lengkap dan tentang perbedaannya dengan validitas, lihat Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (ed), (1995), Metode Penelitian Survey, Jakarta, LP3ES.

12 Kalimat “…mencoba memahami 'yang lain' dari 'aku' atau 'ia' yang cenderung selalu lebih dominan” digunakan penulis untuk menegaskan keberadaan bagi sesuatu yang biasanya memiliki paham yang berbeda dari konsep yang selama ini diakui dan diamini oleh 'aku' sebagai pribadi, oleh 'ia' yang
berada dalam payung kultus (hegemoni budaya), maupun oleh 'ia' yang berada dalam posisi ideologi superior.

Konsep ini sama sekali tidak berkeinginan meniadakan atau menyingkirkan validitas yang kadang digunakan (baca: diyakini) sebagai bahan tolak ukur perhitungan, tetapi lebih pada sekedar mengingatkan bahwa reliabilitas juga memiliki 'gejala' atau kecenderungan benar, sebagai dasar asumsi perhitungan terlebih bila ia ditunjang dengan kualitas argumen yang 'cukup'. Kualitas 'cukup' tersebut dapat diperhitungkan dari seberapa berani kita menguji dan terus mengkritisi pengetahuan yang kadang dalam perjalanannya seperti mengajak kita memasuki 'black hole' - lubang hitam kehidupan dengan instrument yang memadai.

13 Lebih lengkap baca DR. Leo Kleden, SVD “Bahasa Sebagai Struktur, Wacana, dan Kondisi Eksistensial” dalam Menggali Tradisi Lisan, Pustaka Misionalia Candraditya, Seri II/1, 1993, Ende-Flores.

Sang Penujum

Oleh Ag Wahyu



Cerita tentangnya bermula dari sebuah kebetulan yang mengagetkan. Tanggal 31 Desember, hampir satu tahun yang silam, aku menonton televisi secara tidak sengaja. Kukatakan tidak sengaja karena sejak beberapa tahun lalu aku memutuskan untuk tidak melihat tayangan televisi kecuali dalam keadaan yang tak mampu kutolak. Misalnya, aku sedang mengunjungi kawan baruku dan ketika obrolan nampaknya akan habis, kawanku menyalakan televisi sebagai selingan obrolan. Uh, aku sebenarnya ingin memintanya untuk mematikan saja televisi itu. Tapi, sering kurasai ada kekuatan yang menahan lidahku untuk mengatakan permintaanku itu. Akhirnya, terpaksa aku menonton televisi.

Kami, aku dan kawan-kawan fotografer, sedang berkumpul di sebuah kamar hotel di dekat pantai selatan Yogyakarta untuk merayakan pergantian tahun. Rencana merayakan ini pun datang tiba-tiba saja ketika seorang temanku mengirimkan pesan sms kepadaku. Isinya aku masih ingat: cepat bersiap-siap, kita sudah dalam perjalanan ke apartemenmu. Ke pantai selatan, kita merayakan tahun baru. Siapa tahu jodoh kita ada di sana? Hahaha... .

Pukul 9 malam, kami sudah tiba di hotel; itupun dengan susah payah karena jalan menuju pantai macet sekali. Semua orang nampaknya ingin pergi ke pantai dan tidak mau kehilangan pergantian detik yang merubah angka tahun, tentunya dengan melihat laut. (tapi aku heran juga, bagaimana mau melihat laut saat malam? Paling hanya suara ombak yang terdengar, itu pun jika tidak kalah oleh bunyi-bunyian terompet.) Ah, sudahlah, kulanjutkan saja ceritaku.

Hotel yang kami tempati berada di pucuk gunung dengan tebing curam di bawahnya. Dari sana, pemandangan nampak sangat indah. Kami bisa melihat kerlip lampu-lampu jalan, kapal-kapal yang berada di tengah laut, lampu-lampu motor yang merayap di jalan, dan gubug-gubug penjual minuman, juga terompet. Nampaknya, salah seorang kawanku memang sudah merancang acara ini beberapa hari silam karena ia sudah memesan kamar hotel ini. Aku memang mendengar kalau ia sedang ketiban rejeki karena proyeknya lancar; sebuah perusahaan pakaian dalam mengontraknya untuk pemotretan model. Atas hal itu, ia mengajak sesama kawan fotografer untuk bersenang-senang, sekaligus merayakan pergantian tahun.

Karena masih pukul 9, aku dan beberapa kawan merebahkan badan dulu di kamar. Ada yang langsung mandi. Ada juga yang memesan minuman. Setengah jam kemudian, minuman yang dipesan datang, lengkap dengan kacang-kacangan. Kami beranjak dari tempat tidur dan duduk di sofa yang memang didesain untuk suasana mengobrol. Pada saat itulah, salah seorang kawanku menyalakan televisi.

Ia memindah saluran-salurannya. Dan, aku merasa terganggu dengan suara dan gambar-gambar yang keluar dari televisi tersebut. Konsentrasi obrolan jadi buyar. Ketika aku hendak memintanya untuk mematikan saja televisi itulah, tiba-tiba seorang yang dulu sangat kukenal nampak jelas di layarnya.

“Tahan, tahan.” Kataku.

“Hu... katanya nggak doyan televisi.”

“Iya, ini perkecualian. Orang itu, ah, aku tentu tak salah lihat dia, Ratih Fajar Bumi, kawanku dari SD hingga SMU, tetanggaku juga waktu aku masih tinggal di Malang. Wah, ngapain dia muncul di Teve?” kataku sambil memelototi wajahnya.

Nampaknya, kawan-kawanku juga ikut menikmati kebingunganku. Mereka ikut diam dan memperhatikan acara televisi itu. Mungkin, mereka ingin menghormatiku sebagai satu-satunya kawan mereka yang tak pernah menonton televisi. Sementara itu, di layar televisi nampak Ratih sedang berbicara tentang kemungkinan menjamurnya wabah penyakit baru yang akan menyerang bagian barat pulau Jawa, juga tentang banjir yang akan melanda beberapa daerah di bagian barat Indonesia, yang tidak ia sebutkan pulaunya, dan sebuah pesawat yang akan mengalami kecelakaan. Ketika mengatakan ramalan terakhir itu, matanya terpejam beberapa waktu.

Sesaat kemudian, seseorang yang kelihatannya berperan sebagai pewawancara memotong ucapan Ratih sambil sedikit tersenyum, nampaknya sebagai permintaan agar Ratih makhlum karena acara harus dipotong dulu oleh beberapa iklan, tulang punggung acara tersebut.

Katanya, “Pemirsa, menarik sekali apa yang diungkapkan oleh Ibu, Nona, Jeng, ah, saya harus menyebut anda apa ya.... ?”

“Mbak saja.” Jawabnya sambil tersenyum, manis dan persis senyumnya ketika SMU.

“Ya... sangat menarik apa yang diungkapkan oleh Mbak Ratih tadi. Tentunya, anda masih bertanya-tanya, ada apa lagi di Indonesia tahun depan? Kita saksikan setelah beberapa pariwara berikut ini.”

Dan layar berganti dengan selingan: rayakan tahun baru anda dengan penuh cita rasa. Dapatkan segalanya di XXX, kondom yang mengerti anda.

***
Ratih Fajar Bumi, ia pernah dikira mati ketika kelahirannya karena tidak menangis dan diam saja. Seorang suster mencubitnya tapi ia tidak memberikan reaksi apa-apa. Pun ketika ia diletakkan pada gendongan ibunya dan diberi air susu. Ia diam saja. Namun nafas dan denyut nadinya normal ketika diperiksa. Karena khawatir terjadi apa-apa, bapaknya yang percaya terhadap kekuatan-kekuatan mistis mengundang seorang pintar dari lereng Gunung Batu, Malang tidak jauh dari rumah sakit tempat Ratih lahir.

Orang pintar itu, ia seorang perempuan yang sudah berumur delapan puluhan tahun dan selalu memakai ikat di kepalanya, bernama Watu Kinasih; nama yang sangat terkenal di kalangan orang-orang mistis di belahan Timur Jawa, datang beberapa jam setelah Ratih lahir. Beberapa suster yang berkerubung bingung menangani bocah cilik itu diminta untuk pergi dari ruangan tempat bayi dan ibunya tidur. Tapi, mereka masih ragu-ragu karena anak itu masih dalam wilayah penanganan rumah sakit. Baru setelah ayah Ratih sendiri yang meminta dan mengatakan bahwa ia sendiri yang akan bertanggung jawab terhadap apa saja yang akan terjadi pada anaknya, suster-suster itu beranjak dari ruangan tersebut.

Perempuan berikat itu mendekati Ratih mungil. Ah, dulu anak itu belum diberi nama. Nenek pintar itu juga yang nantinya memberi nama Fajar Bumi, dan ayahnya menambahkan Ratih di depannya. Ia merasa anaknya sangat cantik dengan diamnya, persis Dewi Ratih. Di depan Ratih, Nenek Watu berdiam dan memandangi dengan takjub anak itu. Tiba-tiba wajahnya –di antara kerutan yang sudah ada- nampak semakin berkerut dan bibirnya setengah tertekuk. Ayah Ratih mencoba bertanya sesuatu tetapi mulutnya seperti tersumbat hingga akhirnya ia diam saja dan bergantian mengamati ekspresi Nenek Watu dan anaknya.


Sesaat kemudian, Nenek Watu menumpangkan tangan di atas kepala bayi itu. Mulutnya mengatakan sesuatu yang tidak jelas bagi sang ayah. Tapi, sang ayah tetap diam karena ia tahu kata-kata itu tidak ditujukan baginya melainkan bagi anaknya yang baru lahir, anak pertamanya. Kemudian, Nenek Watu menggerakkan tangannya seperti mengusap bayi itu dari kepala hingga kaki, kembali lagi dari kepala hingga kaki sampai tiga kali. Dan, ia mengucapkan kata-kata yang lagi-lagi tak dapat ditangkap oleh sang ayah namun akhirnya sang ayah percaya bahwa Nenek Watu sedang berdoa.

Beberapa waktu kemudian, Nenek Watu tersenyum, dan matanya berbinar. Ia melihat bayi itu lagi, memastikan bahwa semuanya telah selesai dengan sempurna. Lalu, ia mengecup anak itu. Tapi, Ratih kecil masih diam dan belum menangis.
Nenek Watu nampaknya telah selesai dengan tugasnya karena ia segera berjalan menuju pintu. Dan benar, ia berpamitan pada sang ayah.

“Jenengana anakmu Fajar Bumi. Aku mulih dhisik, wis rampung sik tak enteni.”

“Nanging pripun Eyang, anak kula kok dereng nangis?” tanya sang ayah sembari khawatir.

“Kowe ora ngerti. Anakmu linuwih. Aku ndelok Semar neng praene. Nanging ndedonga wae amarga aku uga ndelok wayahe mung sedhela. Pasrahna kabeh marang sing kuasa urip lan pati. Wis, aku bali dhisik.”

Nenek Watu membuka pintu dan keluar dari ruangan. Ia seperti membiarkan sang ayah menikmati kebingungan ucapannya. Dan seketika pecahlah tangis bayi itu. Pecah pula kegembiraan ayah dan ibunya. Para suster yang menunggu di luar ruangan bergegas masuk dan heran dengan apa yang baru saja terjadi. Tetapi mereka memilih diam dan membiarkan rasa gembira pasangan suami istri itu ikut menyentuh perasaan mereka, menutupi rasa ingin tahu mereka.

***

Sejak peristiwa malam tahun baru di hotel itu, pikiranku tentang Ratih seperti tak habis-habisnya. Ia datang siang dan malam mengganggu waktu-waktu senggang dan kerjaku. Aku merasa tidak berurusan lagi dengan Ratih kecuali bahwa dia memang temanku dari SD hingga SMU, juga tetanggaku, tetapi aku juga tidak memiliki hubungan atau keterikatan batin yang lebih dari sekedar teman. Dulu aku memilih untuk tidak menyapanya karena nampaknya dia sudah sangat asyik dengan dirinya sendiri dan seperti enggan bercakap-cakap dengan siapapun. Paling-paling hanya mengucapkan hai atau halo, itupun jika kebetulan kami berpapasan.

Gelisah itu tak kunjung hilang juga, dan malahan bertambah hebat. Akhirnya, aku memutuskan untuk sesegera mungkin menemuinya. Aku merasa bahwa apa yang aku rasakan bukan lagi menjadi urusanku semata. Ratih telah memasuki hidupku, dan menggangguku pikiranku. Bagiku, dia juga musti ikut bertanggung jawab terhadap apa yang kurasakan.

Kuhubungi beberapa teman SMU yang nomer handphonenya masih kusimpan. Ah tidak, mereka hanya kukirimi sms supaya aku nampak tidak begitu membutuhkan informasi tentang perempuan itu atau agar aku kelihatan seperti orang iseng yang punya banyak waktu luang saja. Aku tidak ingin mereka salah duga, maksudku, aku tidak ingin supaya mereka mengira yang bukan-bukan atas permintaanku.

Akhirnya, balasan demi balasan datang.
Satu: wah, aku sudah lama sekali tidak ketemu Ratih, sejak lulus itu. Tapi aku dengar dia sekarang tinggal di Magelang. Nomernya aku tidak tahu.

Dua: sorry prend, gua malah udah gak inget wajahnya. Dia anak yang pendiam itu, kan? Coba lu cek ke departemen orang hilang. Hahaha... emang ada apa sich?

Tiga: wah, ini ni... fotografer andalan kita mau beraksi. Emang Ratih masih jomblo ya? Lu beneran mau deketin dia? Sukses aja deh, nomernya gue gak tau.

Empat: kok yang dicari Ratih sih? Aku juga masih single lo. Eh, sekalian ngasih tau, 2 minggu lagi aku nikah. Kamu bisa datang, kan? Harus bisa, soalnya pengantin laki-lakinya belum ada. Ha...ha...ha....

Lima: kamu pingin diramal sama Ratih ya? Aku lihat di teve kemarin. Hati-hati, boy, jangan-jangan garis hidupmu kebaca semua. Aku denger dia tinggal di Magelang. Tapi gak tau juga sih sekarang dimana.

Enam: nyet, lu salah kirim ya. Ratih Fajar Bumi? Kalau Ratih yang fotomodel seksi itu aku tau nomernya. Nih: 081x xxx xxxx. Dia bisa dipakai coy.

Tujuh, Delapan, Sembilan, dan seterusnya. Tak ada balasan yang memberi informasi pasti. Demi menghormati mereka, kukirimkan balasan yang sama ke semuanya: ok deh. Makasih infonya. Sukses buat kamu. Kapan kita reuni? Kabar-kabar ya.

Tidak mendapat jawaban dari teman-teman SMU, aku menghubungi teman-teman kampungku dulu. Beberapa mengatakan kalau Ratih tinggal di Magelang, tapi nomer teleponnya tidak tahu. Teman-teman yang lain hanya tau kalau dia pernah muncul di televisi, tapi tidak untuk informasi tentangnya.

Jadi, Ratih sekarang tinggal di Magelang, pikirku. Tidak sampai 50 kilo dari tempat tinggalku. Tapi Magelang itu luas juga. Ah, bukankah dia sudah cukup terkenal hingga muncul di televisi? Tentu orang-orang sana tahu dimana dia tinggal. Atau.... kenapa aku tidak menghubungi stasiun televisi yang kemarin menayangkan Ratih saja? Bodohnya diriku.

Jam 9 malam. Tidak terlalu malam untuk menghubungi stasiun televisi. Toh televisi bekerja hingga pagi, 24 jam perhari. Tentu jam 9 malam bukan jam yang larut. Pertama kupencet 108 Jakarta karena aku tidak tahu nomer telepon stasiun televisi itu. Dan, suara yang manis menyahut dari kejauhan, “Ini nomernya, Pak: 021 xxxx xxx.”

Kucatat nomer itu dengan harapan yang berlebih. Aku sudah memegang kunci. Sebentar lagi skak match, pikirku.

Kutekan nomer demi nomer di telepon selularku. Sebelum angka terakhir kutekan, sebuah pesan masuk. Fran Goro, besok pagi aku mau ke Jogja. Kamu ada waktu? Maaf kalau aku mengganggumu. Berilah kabar.

Pesan pendek itu cukup menggangguku karena nomernya tidak tercatat di memori handphoneku. Kuurungkan sebentar niat untuk menghubungi stasiun televisi itu. Kubalas singkat: maaf kalau saya lupa. Tapi nomer anda belum tersimpan di handphone saya. Besok pagi sampai siang sepertinya saya luang. Boleh saya tau nama Anda?

Kutekan lagi nomer stasiun televisi itu. Dan terhubung.

“Selamat malam, ini stasiun televisi X?”

“Ya benar.”

“Saya mau bertanya, beberapa hari yang lalu saya melihat acara Ramalan Indonesia bersama Ratih Fajar Bumi. Boleh saya minta nomer telepon atau alamat rumah Mbak Ratih? Saya ingin menanyakan beberapa hal.”

“Oh, sebentar. Saya sambungkan dulu dengan redaksi, Pak.”
........(terdengar nada sambung)

“Iya, redaksi televisi X, ada yang bisa saya bantu?”

“Seperti saya ceritakan kepada penerima telepon tadi, Pak, saya, Fran Goro, ingin menanyakan beberapa hal kepada Mbak Ratih Fajar Bumi. Karena itulah saya ingin minta nomer telepon atau alamat rumahnya.”

“Oh ya, Ratih Fajar Bumi ya... sebentar.” (jauh dari gagang telepon terdengar orang itu berteriak pada temannya, “Nomernya Ratih Fajar Bumi berapa sih?” Dan temannya menyahut dari kejauhan juga, “kosong delapan satu ...”). Nampaknya mereka sedang sibuk sehingga tidak ingin membuang waktu dengan menanyakan lebih jauh siapa aku dan untuk keperluan apa aku menginginkan nomernya.

“Ini Pak, kosong delapan satu ... xxx...xxxx...” ucapnya menirukan temannya.

“Baik, terima kasih banyak Pak. Selamat malam...”

Kuamati nomer itu. Skak matt juga, pikirku. Aku ingin segera menghubungi Ratih, saat itu juga. Entah nanti mau bicara apa, kuserahkan saja pada waktu.

Tapi lagi-lagi sebuah pesan masuk dari nomer yang tadi, dari orang yang ingin menggangguku esok hari. Isinya: Ratih Fajar Bumi. Kabarmu bagaimana Fran?

Aku tertegun membaca isi sms itu. Kuulangi lagi siapa tahu aku, karena terlalu banyak berpikir tentang Ratih, jadi salah membaca. Ternyata isinya tetap sama: Ratih Fajar Bumi. Kabarmu bagaimana Fran?

Kucocokkan nomer pengirim pesan itu dengan nomer yang diberikan oleh stasiun televisi tadi. Sama persis. Aku makin tertegun dan untuk sekian menit aku hanya bisa diam, kagum dengan apa yang baru saja terjadi dan bingung dengan apa yang harus kulakukan?

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh dering handphoneku. Sebuah nomer yang belum kusimpan dengan nama pemilikinya. Pengirim pesan itu menelponku.

***

Sejak kejadian di rumah sakit itu, ayah Ratih tak pernah menceritakan kepada siapapun tentang apa yang dikatakan Nenek Watu kepadanya. Ia hanya bercerita kepada istrinya, ibu Ratih, dengan pesan keras agar cerita tersebut disimpan sendiri saja. Orang-orang di kampung hanya tahu kalau Ratih harus dipanggilkan orang pintar agar dapat menangis. Pun kepada Ratih sendiri, suami istri itu berjanji untuk tidak bercerita sampai kelak Ratih sendiri menanyakannya, menanyakan bagaimana proses lahirnya, mengapa dan apa arti namanya, dan sebagainya. Jika Ratih belum bertanya tentang dirinya kepada mereka, cerita itu tak akan mereka ceritakan.

Ratih kecil adalah seorang pendiam, sangat. Kemauannya keras dan harus dituruti. Jika tidak dituruti, ia akan jauh lebih diam dan tak mau berkomunikasi sebagai ungkapan marahnya. Pun ia tak mudah tergoda oleh mainan-mainan baru yang dibelikan orang tuanya atau paman-bibinya. Karena sifatnya yang pendiam itu, sebuah senyum yang tersembul dari bibirnya menjadi harta yang sangat berharga dan menawan. Setiap orang yang melihat senyum anak kecil itu pasti akan merasakan kesejukan yang luar biasa.

Kelebihan Ratih seperti yang dikatakan oleh Nenek Watu baru kelihatan setelah Ratih bisa bicara. Waktu itu ia sedang diasuh oleh tetangganya yang diminta ibunya untuk mengasuh Ratih. Tidak biasa-biasanya Ratih kecil berganti-ganti mainan. Setelah semua mainan disentuhnya, ia berjalan mondar-mandir seperti orang bingung. Dan tiba-tiba ia menyebut nama seorang tetangga yang kerap datang ke tempat Ratih dan kerap pula menggendongnya. “Om Heri.. Om Heri...” katanya putus-putus. Ekspresinya biasa saja, sama seperti ketika ia minta diantar ke tempat teman-temannya.

Karena dianggap biasa, pengasuhnya membiarkan saja permintaan Ratih. Malah ia memberi sebuah boneka untuk mengantisipasi permintaan Ratih tersebut. Tetapi Ratih malah membuang boneka itu dan ia berteriak makin keras, “Om Heri... Om Heri... Ke tempat Om Heri...!”

“Om Heri sedang bekerja. Pulangnya masih nanti sore, sayang.” Pengasuh itu mencoba meredakan.

Akhirnya pecahlah tangis Ratih diiringi teriakan menyebut nama Om Heri. Tangis itu pula yang akhirnya membuat pengasuh itu menggendong Ratih dan berjalan menuju rumah Om Heri.

Mata Ratih masih berair ketika sampai di rumah Om Heri. Dan beberapa orang yang berkerumun di rumah tersebut ternyata sedang menangis histeris. Sebuah ambulans terparkir di halaman rumah Om Heri. Om Heri baru saja tertabrak mobil ketika menyeberang dari tempat kerjanya menuju sebuah rumah makan. Orang-orang melarikannya ke rumah sakit tapi nyawanya tak tertolong satu jam setelah ia tiba di rumah sakit.

Pengasuh Ratih terisak. Tapi rasa bingungnya terhadap Ratih kecil memenuhi perasaannya. Dan ia menyimpan sendiri rasa bingung itu. Di rumah Om Heri, Ratih kecil terdiam saja. Matanya menerawang.

***

Di sebuah rumah kopi kami bertemu. Tidak banyak yang berubah dari dirinya kecuali bahwa dia lebih bisa memulai pembicaraan dan menempatkan diri dengan sempurna. Wajahnya, senyumnya, tatapan matanya dan gaya bicaranya nyaris sama seperti dulu. Semalam dia menelponku sebelum aku sempat menata diri dengan baik. Peristiwa itu nampaknya menjadi hal yang paling kukagumi dan paling takkumengerti sepanjang hidupku meski ia nyata-nyata kualami; nyata-nyata dan bukan dalam alam imaji!

Dalam telepon, dia tidak berbicara banyak. Dia hanya menceritakan kalau selama beberapa hari tidurnya tidak tenang dan banyak peristiwa yang ia alami mengingatkannya padaku. Ia juga bertemu beberapa orang yang pernah terlibat dalam hidupku; Nafa Urceh, seorang fotomodel yang pernah menjadi pacarku yang kebetulan dulu adalah kawan SMU ku, kawan Ratih juga., dan yang kedua adalah Nadia Goro, adik kandungku, kawan akrab adiknya semasa SMP. Ternyata, ia mengetahui nomerku dari Nadia.

“Aku melihatmu di televisi.” Kataku mengatasi sisa-sisa rasa bingungku.

“Ya, aku sudah menduganya. Apa sejak saat itu kamu tak bisa berhenti berpikir tentang aku? Hahaha...”

Sialan, pikirku. Perempuan ini ternyata memiliki selera humor juga.

“Tapi bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang merasa gelisah karena kamu, padahal kita tak pernah menjalin hubungan apapun sejak lulus SMU. Bahkan bertemanpun kita juga tidak dekat-dekat amat, kan?” tanyaku.

“Bagaimana ya? Hm... ini susah sekali dijelaskan. Aku hanya merasakannya saja. Tapi mungkin penalarannya begini: ketika kamu terus menerus berpikir tentang aku dan pikiranmu itu over dosis, kamu semacam mengeluarkan energi yang berbeda dari biasanya. Nah, orang-orang di sekitarmu pun menerima energi yang berbeda itu juga. Dan karena energimu itu besar, ia masih bisa terasa bahkan sampai deretan kesekian, sampai ke aku ini misalnya. Tapi itu juga tergantung dari tingkat kepekaan orang terhadap energi-energi yang dibawa orang. Nah, sialnya, aku sepertinya peka terhadap energimu yang berlebihan itu. He.he..he..”

Hm, dia sudah dua kali melemparkan ejekan humornya. Sedang aku belum sekalipun meladeninya. Baiklah, sepertinya aku memang harus diejek.

“Tapi bagaimana kamu bisa yakin bahwa itu energi dariku?” aku mencoba memperdalam pertanyaanku.

“Nah, itu juga yang semula aku bingung, apa ini benar-benar dari kamu atau tidak. Gambaran tentang dirimu pernah terbayang, tapi aku tidak yakin, dengan alasan yang sama persis dengan alasanmu: kita tak pernah menjalin hubungan yang mendalam. Sampai akhirnya aku bertemu foto model yang mantan pacarmu itu dan juga adikmu. Dua pertemuan itu yang akhirnya membuatku yakin kalau kamulah yang mengirimkan sinyal-sinyal itu, meskipun kamu sendiri tidak sadar kalau kamu sedang mengirimkannya melalui sekian banyak orang. Nah, nampaknya keyakinanku benar. Sekarang aku gantian bertanya, kenapa kamu tiba-tiba berpikir tentang aku dan gelisah karena aku?”

Seorang pramusaji datang dengan nampan berisi dua gelas kopi. “Ini kopi Brazil, untuk Tuan Fran, dan ini kopi Tionghoa, untuk Nyonya Ratih. Aha, bukannya Nyonya Ratih ini pernah muncul di televisi? Senang sekali saya melihat anda di sini.”

Ratih tersenyum saja menanggapi omongan pramusaji itu.

“Ah ya, silakan menikmati kopi racikan kami.”

“Terima kasih!” kata kami berdua hampir bersamaan.

Paling tidak, ya, paling tidak, kedatangan pramusaji tadi cukup memberiku waktu untuk menahan jawaban atas pertanyaan Ratih yang memang belum kudapatkan.

“Aku sendiri juga tidak tahu, Ratih. Setelah melihatmu di televisi itu, aku jadi bengong sendiri. Ya, mungkin aku terpesona oleh kehebatanmu meramal waktu. Dan mungkin sudah saatnya kamu meramalku. Bagaimana? Mau melihat garis tanganku? Ha.ha..ha..”

Ratih balas tersenyum. Katanya, “Aku tidak bisa meramal, Fran. Sejak kecil aku, jika akan ada kejadian yang biasanya berupa tragedi, bayangan tentang kejadian itu biasanya muncul sendiri. Aku juga tidak tahu apa namanya. Mungkin intuisi. Kamu ingat waktu SMU dulu, kakak-kakak kelas kita piknik ke Jogja. Tiba-tiba, ketika mereka berangkat dari sekolahan, aku seperti melihat sebuah bayangan salah satu bus rombongan itu tergelincir dan masuk jurang. Tapi aku tidak melihat ada yang meninggal. Waktu itu aku tidak berani mengatakan kepada siapapun tentang bayangan yang melintas di kepalaku itu. Kepada Septi, sahabat dekatku pun aku hanya mengatakan kalau aku punya firasat buruk terhadap perjalanan mereka.”

“Ya, dan di daerah Cemara Sewu, Lereng Gunung Lawu, salah satu bus memang terperosok ke jurang. Semuanya luka tapi untung tak ada yang meninggal.” Timpalku.

“Seperti itulah, Fran. Aku jadi takut terhadap diriku sendiri, takut menghadapi bayangan-bayangan itu. Semuanya, Fran, semuanya, semua bayangan yang datang itu terjadi semuanya. Kadang aku sudah menyadarinya sejak awal bayangan itu datang. Kadang pula aku baru mengetahuinya setelah peristiwanya terjadi. Menakutkan, Fran.”

Ia diam sebentar, menarik nafas yang lumayan panjang. Kemudian mengambil gelas kopinya dan meminumnya pelan.

“Boleh minta rokokmu? Aku belum sempat membeli tadi.”

Segera kuulurkan tanganku. Rokok kretek xxx. Katanya cita rasa paling sempurna. “Aku baru tahu kalau kamu merokok.”

Ia tersenyum saja. Dan segera mulutnya menghembuskan asap.

“Baru setelah kejadian bus itu, aku berani bercerita pada ayahku. Semuanya kuceritakan sepanjang aku mampu mengingatnya, dari kejadian yang menyangkut banyak orang sampai yang hanya terjadi pada satu orang. Heranku, ayah nampak tidak kaget. Ia langsung percaya ceritaku. Pada saat itulah ia mulai bercerita tentang Nenek Watu Kinasih, tentang Semar, linuwih, nama Fajar Bumi-ku, dan wayahku yang sebentar. Ia menceritakan semuanya apa adanya. Tapi giliran kutanya apa maksudnya, ia tak dapat menjelaskan barang satu pun.”

Dari cerita Ratih itulah aku dapat bercerita kepada kalian tentang kelahiran Ratih, Nenek Watu, dan pesan-pesannya.






“Waktu itu aku ingin sekali menemui Nenek Watu dan menanyakan kepadanya apa arti kata-katanya itu. Tapi ayah bilang kalau Nenek Watu meninggal tujuh hari setelah kelahiranku. Dan itu yang membuat ayah paham arti kata Nenek Watu wis rampung sik tak enteni. Ternyata Nenek Watu menungguku lahir lebih dulu untuk meninggal.”

“Jangan-jangan kamu ini pengganti Nenek Watu?”

“Mungkin. Tapi aku juga tidak yakin. Nenek Watu memang juga punya kemampuan lebih dalam hal membaca masa depan. Tapi ia membaca dari tanda-tanda yang ia hubungkan dengan ilmunya, kebatinan. Itu yang membedakan dariku. Aku tak memiliki kemampuan membaca tanda. Yang ada padaku hanya ketiba-tibaan, menyeruak datang begitu saja.”

“Dan kamu tak memiliki kekuatan juga untuk menolak bayangan-bayangan itu datang?”

“Tidak. Atau belum aku tidak tahu. Pun aku tak memiliki kekuatan untuk tidak
membiarkan bayangan-bayangan itu terjadi. Sama sekali. Karena itulah aku merasa sangat lelah menanggung hidupku. Aku bisa sangat mengetahui banyak hal, tapi aku tak memegang kuasa atasnya.”

“Tapi bukankah kelebihanmu itu bisa membantu banyak orang?”

“Ya. Membantu mereka yang percaya. Tetapi bagi yang tidak percaya, aku tak lebih dari orang gila yang cari nama. Dan yang lebih memberatkanku, aku tak sanggup melihat kecemasan dari orang-orang yang kuberitahu tentang apa yang akan terjadi pada mereka. Bayangkan sajalah, kamu diberitahu seseorang kalau orang yang kamu cintai akan menerima malapetaka, atau kampung halamanmu akan diguncang gempa besar. Aku merasa telah melangkahi waktu dan sangat bersalah dengan adaku.”

Dari raut wajah dan tatapan matanya, aku tahu Ratih sedang mengatakan hal yang sejujur-jujurnya. Dan aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya ketika mengatakan apa yang akan terjadi. Ini bukan seperti permainan tebak-tebakan benar atau salah. Dan mereka yang mendengarkan omongan Ratih, kukira mereka tak akan lepas dari kekhawatiran itu: khawatir yang barangkali obatnya hanya pasrah kepada sang pemberi hidup dan mati, dengan mencoba untuk tetap berjuang karena menyadari juga bahwa mereka adalah pelaku sejarah, pelaku hidup masing-masing. Tapi, dalam kecemasan yang meradang, apa harapan tidak mengelupas?

“Oh ya, sejak kapan kamu tinggal di Magelang?” tanyaku setelah agak lama kebisuan itu datang.

“Itu juga ada ceritanya, Fran. Tiga hari setelah kelahiranku, ayah pergi ke tempat Nenek Watu memberi oleh-oleh. Ya, ucapan terima kasih karena membuat anaknya menangis. Pada waktu itu Nenek Watu berpesan agar kelak jika Ratih ingin mengetahui lebih banyak tentang dirinya, suruhlah ia pergi ke Magelang, tepatnya di lereng pertemuan antara Merbabu dan Merapi, dusun Panembahan. Di sana ada seorang yang wicaksono, namanya Eyang Duwong. Tapi orang-orang seperti Nenek Watu memanggil Eyang Duwong dengan sebutan Kresna karena mereka percaya bahwa di dalam diri Eyang Duwong itulah Sang Kresna bersemayam.”

“Dan apa yang kamu lakukan di sana?”

“Aku sendiri juga tidak tahu sampai sekarang. Ya, hidup saja di sana. Ikut Eyang Duwong pelihara itik, ke sawah pelihara tembakau. Bertukar pikiran dengan Eyang. Kalau malam diajak meditasi.”

“Terus, pekerjaanmu?”

“Hehe.. kamu tahu kan, sejak kecil aku senang menari. Sampai sekarang aku masih menari. Sejak enam bulan lalu aku menari di kraton. Sultan senang melihatku menari. Nanti malam aku juga menari kok. Ada tamu dari India dan Cina. Aku juga melatih anak-anak menari di Magelang. Ya, kegiatan sore hari.”

“Kamu tinggal di rumah Eyang Duwong?”

“Ya, Eyang sangat baik orangnya, juga nenek. Awalnya lucu, Fran. Waktu aku datang pertama kalinya, seorang diri saja, kurang lebih dua tahun lalu, Eyang sedang minum teh di dapur. Di sana kan orang lebih senang minum teh di dapur daripada di teras. Nah, setelah bertanya pada beberapa orang dimana rumah Eyang Duwong, aku berjalan menuju rumahnya. Sepi sekali meski pintunya terbuka lebar. Belakangan aku tahu kalau pintu rumahnya tak pernah ditutup. Kulanuwun, kataku. Dari dalam terdengar sahutan eyang, mempersilakan aku masuk saja ke dapur. Aku langsung masuk. Saat pertama kalinya Eyang melihat wajahku, ia menatapku lama sekali dan seperti menerka-nerka wajahku.”

“Ia mengenalmu?”

“Kurasa belum karena kami belum pernah bertemu. Tapi Eyang, setelah beberapa saat menatapku, langsung menyebut namaku, Weh, Fajar Bumi. Katanya, ia sudah lama menunggu datangku.”

“Dari mana ia tahu namamu?”

“Aku juga tidak tahu, Fran. Ketika kutanyakan pada Eyang, ia hanya tersenyum. Tapi menurutku ia tahu dari Nenek Watu. Kata Eyang, waktu aku lahir, ia melihat sebuah cahaya putih terang sekali melintas di antara gunung Merapi dan Merbabu. Ia sedang bersama Nenek. Tapi Nenek tak melihatnya. Nah, malam sebelum aku datang ia mengalami kejadian yang sama. Tapi kata kakek, cahaya itu melintas cepat sekali, tidak seperti saat kelahiranku.”

“Dan apa arti cahaya putih itu?”

“Eyang tak pernah mengatakannya. Katanya, aku akan mengetahuinya sendiri kelak. Tapi sampai sekarang aku juga belum mengetahuinya. Hehehe...”

Ah, Ratih Fajar Bumi, kamu perempuan penuh misteri yang tiba-tiba datang dalam hidupku. Akan seperti apa dunia menjagamu? Akan seperti apa kamu menjaga dunia? Namamu sendiri, tidakkah telah menyiratkan keberadaanmu, apa kamu diharapkan menjadi cahaya? Tapi apa artinya cahaya jika ia melintas sangat cepat? Dan aku sendiri, bagaimana harus kuartikan peristiwa ini? Orang asing yang sejak kecil kukenal ini telah menceritakan banyak hal kepadaku. Tentu akan ada cerita-cerita yang menyusul belakangan nanti. Atau, apakah ini berarti bahwa aku akan banyak terlibat dalam hidupnya?

Nampaknya pikiranku sedang melayang ke banyak sudut hidup ketika Ratih mengulangi perkataannya, “Fran, kamu sedang melamun, sampai tak mendengar jeritanku?”
Aku tergagap sejenak. “Eh, kamu berkata apa tadi?”

“Aku bertanya, kamu sibuk apa selain motret?”

“Oh, aku sedang belajar di Universitas XXX, coba-coba ambil S2. Kalau lancar, sih.”
“Wah, kalau kamu sih aku yakin lancar. Murid paling cerdas seangkatan, paling dijagokan guru. Hehehe..”

“Nah, kalau kamu sudah bilang begitu, aku jadi tambah yakin kalau bisa tamat. Kan ucapanmu sudah laku di tivi.”

“Wah, kena nih. Yeah, hitung-hitung buat pertanggungjawaban atau antisipasi terhadap rasa bersalahku sendiri sih. Kamu ambil jurusan apa? Fisika ya?”

“Ya, kamu keliru. Aku ambil sejarah pemikiran Jawa.”

Ratih tertawa lumayan keras demi mendengar kata-kataku terakhir. “Wah, ini baru berita gembira,” katanya, “ilmuwan Fisika kita ternyata menyukai ilmu yang sudah tua.

Menarik tentunya, Fran?”

“Sangat menarik. Ah, aku jadi ingat. Mungkin sekarang aku bisa menjawab pertanyaanmu di awal tadi, tentang bagaimana aku bisa gelisah setelah melihatmu di tivi. Dalam pemahamanku, aku menganggap bahwa apa yang terjadi saat ini, detik ini, adalah kenyataan yang merengkuh masa lalu dan masa depan.”

“Maksudmu?”

“Apa yang kualami saat ini bisa jadi adalah penggenapan atas masa laluku yang belum lengkap. Jadi ini menjadi semacam bayaran yang harus kulalui, bukan yang lain. Atau bisa jadi juga, apa yang kualami saat ini adalah tabungan atau persiapan untuk suatu hal di masa depan. Tanpa melewati yang kualami ini, barangkali hidupku menjadi kurang genap, atau paling tidak, kegenapan itu tertunda.”

“Ya... Dan kamu tentu juga mengandalkan intuisimu, berpikir dengan rasa, apakah kamu, juga aku, memang benar-benar tepat melakukan apa yang sudah, akan atau sedang kita lakukan?”

“Kamu benar, Ratih. Ini semacam area kita sebagai manusia yang dilahirkan bebas, dan bebas pula menentukan hidup kita. Sementara kebebasan selalu memiliki pilihan-pilihan sebagai anak kandungnya.”

“Dan kita memilih satu ruang dan waktu saja sebagai wilayah nyata hidup kita. Tepat atau tidaknya pilihan kita, nampaknya tergantung dari ketajaman pikir dan rasa kita ya, Fran.”

“Ya, termasuk pilihanku untuk bertemu kamu hari ini. Nampaknya ini pilihan yang sangat keliru. Hahaha...”

Akhirnya aku bisa membalas selorohnya di awal pertemuan tadi. Kami tertawa bersama. Tapi wajahnya sedikit merah: cantik.

***

Hari sudah hampir sore ketika kami meninggalkan rumah kopi tersebut. Ratih langsung pergi ke kraton untuk persiapan pentasnya nanti malam. Sedianya aku ingin ikut dan melihat dia menari. Tapi aku sudah ada janji dengan seorang model untuk tiga sesi pemotretan. Yah, belum waktunya, pikirku. Dan berpisahlah kami dengan hidup kami masing-masing.

Setidaknya, aku merasa lega karena sudah bertemu Ratih. Tapi mendengar kisahnya seperti menciptakan sesuatu yang berbeda dalam hidupku. Aku sangat kagum pada kelebihan Ratih, kelebihan yang nampaknya terberi begitu saja. Tapi di sisi lain, aku juga merasakan sisi kemanusiaannya yang menderita karena kelebihannya itu.

***

Aku masih sering bertemu Ratih sejak pertemuan itu. Pernah ia mengajakku ke Magelang, ke tempat Eyang Duwong. Tempatnya nyaman sekali, sejuk dan membuat orang kerasan. Apalagi dengan kebaikan hati Eyang Duwong dan Nenek, aku seperti disambut keluarga sendiri, tinggal di rumah sendiri.

Hubunganku dengan Ratih kian hari juga kian dekat. Aku sering melihat diriku di dalam apa yang dikerjakan Ratih. Maksudku, aku melihat kekurangan-kekuranganku sendiri. Dan dengan itu, aku belajar banyak darinya.

Ratih sendiri masih sering mendapat bayangan-bayangan yang tiba-tiba datang dan lantas terjadi itu. Apa yang dikatakannya di stasiun televisi X pada akhir tahun lalu beberapa memang sudah benar terjadi; di bagian barat pulau Jawa, sebuah wabah yang membuat banyak orang tak dapat tidur menyebar, dan banjir besar terjadi di kota-kota besar di belahan barat Indonesia. Dan perempuan itu hanya terdiam menyaksikan bencana itu terjadi silih berganti.

Sudah hampir satu tahun, seperti kuceritakan di awal kisah ini, aku berhubungan dekat dengan Ratih. Ini berarti akhir tahun sudah dekat. Tiba-tiba aku ingin sekali melihat Ratih menari. Kubiarkan beberapa hari keinginan itu. Tapi lama-lama aku tak kuat juga menahannya. Ah, apa ia mau menari untukku?

Kuputuskan untuk pergi ke Magelang tanpa memberi kabar lebih dulu. Aku merasa Ratih sedang ada di sana. Dan ternyata aku tidak keliru. Ia sedang berbincang-bincang dengan Eyang Duwong ketika aku datang pada suatu sore. Nampaknya mereka sedang cukup serius bercakap-cakap.

Mereka menyambutku dengan kegembiraan yang biasanya. Sepertinya mereka merasa juga kalau aku akan datang.

“Kemarilah, Kamajaya!” kata Eyang Duwong.

Aku bingung demi mendengar ucapan Eyang. Tidak ada orang lain selain aku dan Ratih di tempat itu. Tapi ia memanggil Kamajaya. Dan bukankah dalam cerita pewayangan, Begawan Kamajaya itu suami Dewi Ratih? Dan matanya menatapku. Kamajaya, tanyaku dalam hati.
“Ya, kemarilah kamu, Nak. Duduklah sini. Teh ini sudah menunggumu.” Nampaknya Eyang melihat kebingunganku dan lalu merubah kata-katanya. “Kamajaya itu kamu, Nak!”

“Maksud Eyang?”

“Hahaha... sudahlah. Nanti juga kamu akan mengerti.”

Aku menjadi tambah bingung. Tapi jika Eyang sudah bicara demikian, aku tak akan berani bertanya lebih. Kami minum-minum sebentar dan berbincang tentang beberapa hal yang tidak membingungkan seperti bagaimana perkerjaanku, juga tentang pendadaranku untuk S2 yang tinggal sebentar lagi.

Sesaat kemudian, Eyang Duwong mengajakku ke pendapa tempat biasa anak-anak belajar menari. Ratih masuk ke kamarnya.

Tak ada siapa-siapa di pendapa itu kecuali sebuah tape yang mengeluarkan bunyi gending Jawa. Enak sekali, pikirku. Kami duduk di pinggiran pendapa tersebut. Tiba-tiba, dari kejauhan, seorang perempuan dengan dandanan penari yang lengkap berjalan ke arah pendapa. Segera kukenali bahwa perempuan itu adalah Ratih. Ya Tuhan, ia cantik sekali.
Ratih segera menuju ke tengah-tengah pendapa, berdiri di hadapan kami. Eyang berjalan menuju tape dan mengganti kaset. Belum terdengar bunyi dari kaset itu ketika kakek kembali duduk di sebelahku.

“Gending ini berjudul Uriping Pati, sama seperti judul tariannya. Ratih sama sekali belum pernah menarikan tarian ini. Dan sekarang, dengan busana yang lengkap, ia akan menarikan untuk pertama kalinya.”

Aku diam saja karena memang tidak tahu apa yang harus kukatakan.

Sesaat kemudian gending itu terdengar. Ketukannya sangat pelan dan membuat telingaku seperti tidak sabar ingin mendengar nada-nada selanjutnya. Ratih maju menghampiri kami dan melakukan sungkem pada Eyang Duwong. Setelah itu, ia mendekatiku, duduk bersimpuh di hadapanku. Kedua tangannya terlipat di dada. Kemudian ia menarik kedua tanganku dan menciumnya lama sekali. Kubiarkan Ratih melakukan semua itu karena aku seperti tak merasakan apapun selain takjub.

Setelah itu, Ratih kembali ke tengah-tengah pendapa dan berdiam sebentar. Eyang Duwong beranjak dari tempat duduknya, pergi agak jauh dari pendapa. Sambil berdiri, ia melihat ke pendapa. Aku tetap duduk di tempatku. Menikmati gending itu, menikmati kebingunganku, menikmati ketakjubanku, dan menikmati Ratih yang mulai menggerakkan badannya.

Tangan kanannya mulai meliuk ke samping dan nampak hendak mendorong seseorang. Sedangkan tangan kirinya tetap berada di depan dadanya, seperti Budha yang sedang bersamadi. Ia bertumpu hanya pada jari-jari kakinya, dengan kaki kanan di belakang kaki kiri. Demikianlah ia menari mengikuti irama gending yang sangat lambat. Kepalanya mengikuti gerakan tangan kanan dengan kedua mata yang menatap ujung jari tangan tersebut. Ia gemulai sekali.

Setelah beberapa saat, gending terdengar lebih cepat temponya. Ratih kulihat mengikuti tempo tersebut. Tangan kanannya bergerak lebih cepat, juga kepala dan kedua kakinya. Tangan kirinya masih berada dalam posisi samadi. Sesekali ia nampak seperti Gatotkaca yang hendak berangkat perang, gagah sekali dan matanya seperti menantang siapapun yang menatapnya. Sesekali pula ia nampak seperti Arjuna yang tegas tapi lemah lembut.
Apakah ia, perempuan yang menari di hadapanku, Ratih? Tidak, ia bukan Ratih lagi. Ia sudah menjadi sebuah tarian yang sempurna. Bahkan sekarang kulihat ia sudah menjadi Semar. Tariannya seperti orang yang sedang berada dalam kesempurnaan yang samar. Ia seperti Semar yang mendem, Semar yang mabuk.

Irama gending dengan tempo cepat tersebut memuncak setelah Ratih memutar badannya beberapa kali. Ia hanya bertumpu pada ujung jari kaki kirinya sedang kaki kanannya ia letakkan pada lutut kaki kirinya sehingga membentuk segitiga. Tangan kanannya menjulur ke samping kanan dan matanya masih menatap tangan kanan tersebut. Ia berputar sangat cepat dan berhenti tepat dengan bergantinya tempo gending tersebut.

Sekarang gending tak berirama cepat lagi, juga tidak lambat. Ia memberi ketukan seperti detik-detik jam yang melewati titik-titik lingkaran waktu. Ah, sekarang tariannya tampak erotis. Matanya memiling ke kanan dan ke kiri seakan mengajak siapapun yang melihatnya untuk sesegera mungkin mencumbunya. Tak kusadari, bahuku ikut bergerak mengikuti irama gending.

Tiba-tiba Ratih menghampiriku dan menarik tanganku. Ia mengajakku menari?

Di tengah pendapa itu, aku seperti tidak ingat sedang berhadapan dengan siapa. Kesadaranku mengatakan kalau aku sedang berhadapan dengan sebuah tarian yang sempurna dan bukan berhadapan dengan orang. Dan tarian itu seperti membimbingku sehingga aku pun turut menggerakkan seluruh tubuhku.

Aku tak pernah menari, pun belajar menari. Tapi aku merasa diriku juga telah menjadi sebuah tarian. Aku merasa diri kosong dan tak memikirkan apapun selain menjadikan diri sebuah tarian.

Sementara itu dari kejauhan, Eyang Duwong melihat dua orang yang tengah menari dengan sempurna. Dalam hidupnya, baru sekali ia menyaksikan tarian seperti itu. Dan ia sungguh seperti melihat Begawan Kamajaya dengan Dewi Ratih lah yang sedang menari di tengah pendapa tersebut. Tidak salah, pikirnya. Dialah Kamajaya.

Beberapa waktu kemudian, irama gending berubah lagi menjadi sangat lambat seperti pada awal tarian tadi. Aku menyadari perubahan tempo tersebut karena tiba-tiba aku sudah berada di tempatku duduk tadi. Dan kulihat sebuah tarian masih mengikuti irama gending di hadapanku. Ia masih menari, seorang diri. Atau apakah sebenarnya aku masih menjadi bagian dari tarian itu sendiri? Aku berdiri menatap tarian itu dengan kedua telapak tanganku bertemu di dadaku. Aku sedang bersamadi?

Suara gending itu makin melemah ketika tarian itu mendekatiku. Dan tarian itu seperti merubah dirinya menjadi seorang gadis lagi, menjadi Ratih lagi ketika ia menyentuh kedua tanganku dan mencium tanganku. Aku tidak menyadari apa yang kulakukan tapi tiba-tiba aku ingin sekali mencium keningnya. Dan kulakukan itu seiring dengan berhentinya suara gending, seiring pula dengan detak jantungku yang bergetar lebih cepat dan seluruh tubuhku yang merinding; ekstase.

***

Menjelang Isya, aku pamit Eyang Duwong untuk kembali ke Jogja. Ternyata Ratih juga sekalian ikut ke Jogja. Ia memintaku untuk mengantar ke bandara karena pukul sembilan malam ia harus berangkat ke Jakarta. Sultan dan rombongannya tengah menantinya di Jakarta untuk menari. Sebelumnya Ratih telah mengatakan kalau ia akan menyusul saja dan setengah tidak yakin apa bisa turut menari karena ia harus melakukan sesuatu yang sangat penting. Untungnya Sultan mau mengerti dan memberi kebebasan padanya untuk berangkat sendiri. Rencananya esok hari Ratih akan menari.

Kami tidak banyak bercakap selama perjalanan ke bandara. Nampaknya terlalu sulit mencari bahasa untuk mengungkapkan perasaan kami masing-masing. Ia hanya mengatakan kalau dirinya yakin bahwa aku akan menjadi pemikir yang hebat dan ahli dalam pemikiran Jawa. Aku tertawa saja mendengarnya karena aku tahu betul kemampuanku yang terbatas. Tapi tertawaku terhenti ketika aku menyadari kalau Ratih punya kemampuan melihat masa depan. Semoga, pikirku. Dan lantas aku membayangkan diri menjadi pembicara dalam seminar-seminar filsafat di Inggris, Belanda, atau Jerman yang membahas tentang pemikiran Jawa. Demi membayangkan itulah aku tersenyum lagi. Selebihnya, kami hanya mendengarkan suara hujan yang dan deru mobil yang lain.

Pukul delapan malam kami sampai di bandara. Hujan masih turun meski tak lagi deras. Tak satu pun bintang tampak. Aku mengantarnya sampai ke ruang tunggu, sampai akhirnya waktu meminta Ratih untuk segera berjalan ke pesawat.

“Ratih, apakah kita akan bertemu dan menari lagi?” tanyaku. Tapi aku sendiri tidak tahu darimana asal pertanyaanku.

“Dewi Ratih memang menari, Fran. Tapi untuk Kamajaya, kekasih hatinya, ia hanya menari sekali. Dan hidupnya telah genap dengan tariannya itu. Bukankah kita telah menjadi sebuah tarian yang sempurna tadi?”

“Ya Ratih, kita telah menjadi sebuah tarian yang sempurna.”

Ratih memejamkan matanya sesaat. Kulihat wajahnya begitu sempurna dan bahagia. Dari bibirnya keluar senyuman yang paling membahagiakan. Ia membuka kedua tangannya memintaku untuk masuk ke dalam pelukannya. Ah, ketentraman yang luar biasa, akankah ia menghampiriku sesaat saja?

Ia mencium keningku.

“Selamat tinggal, Fran. Selamat tinggal Kamajaya. Tidak ada yang lebih membahagiakan Dewi Ratih kecuali menari bersama Kamajaya!”

Ah, kata-kata itu, keluar dari mulut Ratihkah? Atau ia sedang mencoba mengatakan sesuatu yang lain? Dan ia mulai melangkahkan kakinya ke pesawat, diiringi rintik-rintik hujan.

Aku pulang setelah memastikan pesawat yang ditumpanginya telah meninggalkan landasan.

Berjalan meninggalkan bandara, perasaanku menjadi tak karuan. Aku gelisah sekali. Semua bayangan tentang Ratih datang silih berganti dan tak menentu. Aku seperti tak punya kekuatan untuk menghentikan bayangan-bayangan itu. Semua yang muncul adalah pengalamanku dengan Ratih. Tapi perasaan ini, siapa yang menguasainya? Kenapa tiba-tiba aku menjadi cemas? Kenapa tiba-tiba aku bingung?

Masa-masa dengan Ratih seperti tak mau berhenti mendatangiku, ia menarikku mundur mulai dari ciuman di keningku, pelukannya, kata-katanya, keyakinannya akan diriku, tarian kami berdua, sms-smsnya, obrolan kami di rumah kopi, dan seterusnya. Ah, ternyata waktu bisa menarikku mundur ke pusaran. Dan ingatanku yang datang silih berganti itu memang semakin membuat cemasku tak karuan.

Sampai di tempat parkir, aku tidak langsung pulang. Aku duduk dulu di dalam mobil sambil mencoba menarik nafas dalam-dalam dan mencoba membuatnya teratur. Ingatan-ingatan itu, kenapa mereka tidak datang memberiku senyum? Ah, mereka malah membuatku teriris-iris. Kupejamkan mataku agar aku bisa lebih cepat menata diri. Tapi malah ingatan-ingatan itu mencongkel keluar dari liang-liang persembunyiannya dan serentak merengkuhku dari kekinian.

Akhirnya kubuka kembali mataku. Dan tiba-tiba dari dalam mobil aku melihat sebuah cahaya putih terang benderang melesat di ujung selatan langit, dari timur ke barat. Meski sangat cepat, aku melihat dengan sangat jelas kilatan cahaya putih itu. Dan aku tahu pasti, cahaya itu bukan kilat. Ia menyerupai bola, putih terang benderang dan nyaris membuat mataku silau.

Pada saat yang bersamaan, ingatan-ingatan yang melintas di kepalaku berhenti pada satu titik yang mengagetkan aku sangat. Di televisi itu, hampir satu tahun silam, Ratih sedang mengatakan ramalannya; tentang banjir, tentang penyakit baru, dan tentang pesawat yang akan mengalami kecelakaan. Pesawat? Kesadaranku tidak bisa beralih dari pesawat yang ditumpangi Ratih dan kata-kata yang keluar dari mulut Ratih setahun silam. Ia terpejam beberapa saat setelah mengatakan ramalannya itu, aku ingat betul. Apakah ia membaca nasibnya sendiri. Dua ramalannya telah benar-benar terjadi. Dan pesawat? Setahun ini aku tidak pernah mendengar kabar tentang kecelakaan pesawat terbang. Penujum itu, apakah ia tengah menjalani tujumannya sendiri?

Seketika kuambil telepon selularku dan kupencet nomer Ratih. Tidak aktif. Aku tahu, dalam penerbangan, handphone tidak boleh diaktifkan. Tapi aku merasa tidak aktifnya handphone Ratih terjadi bukan karena peraturan itu. Sesuatu, apakah yang sedang terjadi?

Kata-katanya di ruang tunggu tadi, apakah itu kata-kata perpisahan?

Hampir setengah jam aku tidak beranjak dari kursi mobil. Bingung dan cemas. Akhirnya aku keluar dari mobil dan berjalan menuju tengah-tengah lapangan parkir, duduk di bawah tiang lampu dan membiarkan air hujan menerpa tubuhku. Ayo..ayo... segarkanlah aku sekarang juga!

Satu jam telah berlalu. Kupikir sudah cukup untuk satu penerbangan ke Jakarta. Kutelepon lagi Ratih tapi masih tidak aktif. Pikiranku semakin buruk saja.

Eyang Duwong, ya, Eyang Duwong. Aku teringat dia. Dan aku ingin segera kembali ke tempatnya, mencoba mencari kepastian akan kecemasanku. Aku rasa Eyang, saat ini, hanya Eyang yang bisa membantuku menata diri.

Segera aku membawa mobilku ke Magelang lagi. Aku tidak tahu berapa kecepatan lajuku. Yang jelas, aku ingin sesegera mungkin menemui Eyang Duwong.

Satu jam perjalanan terasa begitu lama bagiku. Eyang Duwong sedang duduk bersamadi ketika aku datang. Ah, apakah ia juga mengetahui sesuatu? Apakah mereka, Eyang dan Ratih, telah tahu apa yang akan terjadi dan tidak mengatakannya padaku?

Melihatku kedinginan, Nenek memberiku segelas teh panas. Ia tidak mengajakku bicara lebih selain mengatakan kalau Eyang sedang bersamadi dan memintaku menunggu sebentar. Dan engkau Nenek, apakah engkau juga mengetahui sesuatu?

Sesaat kemudian, Eyang telah selesai dari samadinya. Ia datang menghampiriku dan bertanya, “Ana apa, Ngger? Kok praenmu pucet banget?”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi kata-kata Eyang tadi cukup membuatku tenang.
“Saya mengkhawatirkan Ratih, Eyang.”

Eyang diam saja untuk beberapa saat. Aku tambah curiga telah terjadi sesuatu pada Ratih.

“Coba, sekarang teleponlah. Siapa tahu ia sudah melewatinya.”

Melewatinya, melewati apa? Aku bertanya saja dalam hati dan segera menuruti kata-kata eyang. Kuambil handphoneku di kantong jaket. Ternyata ada satu pesan masuk. Kusempatkan diri untuk membukanya sebelum menelpon Ratih.






Jika Ratih dan Kamajaya sudah menjadi tarian, bayangan-bayangan yang melintasi waktu itu telah kembali menjadi milik masing-masing manusia. Terima kasih banyak, Kamajaya. Ratih.

Kubaca berulang-ulang kalimat itu. Bukan untuk mengetahui lebih dalam isinya melainkan untuk memastikan memang benar Ratih lah yang mengirimkan pesan tersebut.

Eyang Duwong masih mengamatiku dengan senyumannya ketika aku memencet nomor Ratih dan ketika beberapa nada sambung terdengar jelas di handphoneku. Tiba-tiba nada sambung itu berhenti dan terganti oleh suara perempuan yang telah sangat aku kenal.

***

Glodogan, Mei 2005.